Diplomasi "Stick & Carrot" untuk Ukraina dan Rusia: Upaya Damai yang Berliku
Oleh Jimmy H Siahaan
Di dunia diplomasi, ada satu pendekatan klasik yang tak pernah benar-benar usang: memberi hadiah dan ancaman sekaligus. Strategi "wortel dan tongkat" ini berusaha memadukan bujukan dengan tekanan. Intinya sederhana: janji imbalan untuk memotivasi, ancaman hukuman untuk mencegah.
Nah, belakangan ini ada perkembangan menarik seputar upaya pemerintah Donald Trump mendamaikan Rusia dan Ukraina. Yang menarik, ternyata pada bulan Agustus lalu, Presiden Zelensky memberikan sebuah tongkat golf kepada Trump. Bukan sembarang tongkat. Barang itu sebelumnya milik Kostiantyn Kartavtsev, seorang tentara Ukraina yang kehilangan kakinya di bulan-bulan awal invasi Rusia saat menyelamatkan rekan-rekannya. Sebuah simbol yang sarat makna.
Di sisi lain, Presiden Finlandia Alexander Stubb dalam wawancaranya dengan BBC punya pandangan menarik. Menurutnya, Donald Trump adalah "satu-satunya figur yang mampu memaksa" Vladimir Putin untuk duduk di meja perundingan. "Yang kita butuhkan bukanlah bujukan untuk membawa Rusia ke meja perundingan, melainkan tekanan yang memaksa mereka datang," ujarnya.
Stubb menambahkan bahwa Trump "telah memberikan 'wortel' kepada Presiden Putin, yang diwujudkan dalam pertemuan di Alaska, dan tentu saja belakangan ini dari retorikanya muncul lebih banyak 'tongkat'."
Trump sendiri tak menyembunyikan rasa jengkelnya. Dalam wawancara dengan GB News pertengahan November 2025, ketika ditanya apakah perang di Ukraina masih membuatnya jengkel, jawabnya singkat: "Benar." Dia menegaskan perang tersebut seharusnya tidak pernah terjadi. Padahal, Trump merasa bangga telah berhasil mengakhiri delapan perang sejak menjabat periode keduanya pada Januari 2025, termasuk konflik India-Pakistan dan Israel-Iran. "Yang belum saya lakukan adalah Rusia dan Ukraina. Seharusnya tidak pernah dimulai," keluhnya.
Meski begitu, Trump tetap optimis. "Saya berharap itu akan segera terjadi. Kita sudah memberi banyak tekanan pada mereka (Rusia)," ujarnya penuh keyakinan.
Tongkat Hukuman Mulai Diayunkan
Tekanan yang dimaksud Trump mulai terlihat nyata. AS baru saja mengumumkan sanksi besar kepada dua produsen minyak terbesar Rusia: Rosneft dan Lukoil. Menurut RBC Capital Markets, kedua perusahaan ini menguasai sekitar setengah dari total ekspor minyak Rusia.
"Hal itu sebenarnya mengejutkan karena selalu ada perbedaan antara retorika dan tindakan Trump," kata Maria Shagina, peneliti senior di International Institute for Strategic Studies (IISS) London.
Dampak sanksi ini langsung terasa. India mulai mengurangi impor minyak dari Rusia karena tekanan sanksi dan tarif dari AS. Bank-bank di India menolak memproses pembayaran untuk pasokan minyak yang terkena sanksi. Beberapa perusahaan kilang minyak di India bahkan telah membatalkan pesanan minyak dari Rusia untuk pengiriman bulan Desember.
Trump juga memberlakukan tarif tambahan pada impor India ke AS karena negara tersebut terus membeli minyak dari Rusia. Pemerintah AS secara eksplisit mengaitkan negosiasi dagang dengan India dengan tuntutan agar mereka mengurangi atau menghentikan impor minyak Rusia.
Pengurangan pembelian oleh India, salah satu pembeli terbesar minyak Rusia, diharapkan dapat memberikan tekanan ekonomi yang signifikan pada Kremlin.
Dokumen Perdamaian 28 Poin yang Kontroversial
Sementara tekanan ekonomi berjalan, muncul laporan mengejutkan bahwa AS dan Rusia diam-diam menyusun rencana perdamaian 28 poin untuk mengakhiri perang. Yang membuatnya kontroversial, dokumen itu disebut memuat konsesi besar kepada Moskow mulai dari penyerahan wilayah Donbas hingga pemangkasan 50% kekuatan militer Ukraina. Yang lebih memprihatinkan, penyusunan dokumen disebut tidak melibatkan Kyiv.
Artikel Terkait
Kardinal Suharyo Buka Perayaan Natal DKI dengan Cerita Gembala dan Dua Hewan
Surat Terbuka untuk Gus Yaqut: Saatnya Kembali ke Jalan Islam
KPK Tetapkan Menag Yaqut Tersangka Kasus Kuota Haji
600 Huntara Resmi Diberikan kepada Korban Bencana Aceh Tamiang, Ini Fasilitasnya