Di sebuah universitas di Riyadh, Arab Saudi, suasana tampak khidmat. Megawati Soekarnoputri, presiden perempuan pertama Indonesia, berdiri di hadapan para hadirin. Ia baru saja menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Princess Nourah bint Abdulrahman University, Senin lalu. Dan pidatonya cukup menggugah.
Intinya jelas: pemberdayaan perempuan adalah penentu kualitas sebuah negara. Bukan sekadar pelengkap, tapi elemen esensial. "Pemberdayaan perempuan bukanlah ancaman terhadap nilai, budaya, atau tradisi," tegas Megawati.
"Justru sebaliknya, ia merupakan syarat bagi negara yang percaya pada masa depannya sendiri."
Pernyataan itu ia sampaikan dengan penuh wibawa. Menurutnya, negara yang mengecualikan separuh populasinya dari proses pembangunan hanya akan menuai ketimpangan. Bahkan, berisiko kehilangan keseimbangan sosial dan moralnya. Negara harus dipahami sebagai peradaban yang hidup, bukan cuma struktur administratif belaka. Dan peradaban itu butuh semua potensinya, tak peduli gender.
Pengalamannya memimpin Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, jadi bukti nyata. Keterlibatan perempuan, dalam pandangannya, berdampak langsung pada kualitas kebijakan publik yang dihasilkan. Pemerintahan yang efektif mustahil terwujud kalau perempuan terus dikesampingkan dari meja pengambilan keputusan strategis.
"Negara yang besar adalah negara yang mampu menghimpun seluruh potensi kemanusiaannya. Negara yang kuat adalah negara yang tidak membiarkan separuh dari kekuatan sosialnya berada di pinggir sejarah."
Namun begitu, Megawati juga mengingatkan agar isu ini tak dipersempit. Bukan cuma soal jumlah kursi di parlemen atau jabatan menteri. Yang lebih penting adalah keterlibatan yang bermakna, mulai dari perumusan gagasan hingga eksekusi di lapangan. Negara punya tanggung jawab untuk membuka ruang, memberi perlindungan, dan memastikan kesempatan yang setara.
Acara penganugerahan itu sendiri terasa istimewa. Megawati tercatat sebagai tokoh pertama dari luar Arab Saudi yang mendapat gelar kehormatan dari universitas perempuan terbesar di dunia itu. Hadir mendampingi, keluarga dan sejumlah pejabat diplomatik. Tampak M. Prananda Prabowo dengan istrinya, Nancy, lalu Ketua DPR RI Puan Maharani, serta Duta Besar RI untuk Arab Saudi Abdul Aziz Ahmad.
Gelar ini menambah koleksi panjang penghargaan akademisnya. Sebelumnya, mantan ketua umum PDIP itu telah menerima sepuluh gelar doktor kehormatan dan tiga gelar profesor kehormatan. Tapi pesan yang ia bawa dari Riyadh kali ini mungkin yang paling relevan: masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana ia memperlakukan kaum perempuannya.
Artikel Terkait
PKL Makassar Cat Lapak Kuning, Pemkot Tegaskan Itu Tetap Pelanggaran
Megawati Raih Doktor Honoris Causa dari Universitas Perempuan Terbesar di Dunia
Megawati Raih Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Perempuan Terbesar di Arab Saudi
BMKG Makassar Imbau Waspada Hujan dan Angin Kencang di Sulsel Besok