Suasana di Binus University, Kemanggisan, pada awal Februari lalu cukup berbeda. Selama 48 jam penuh, dari tanggal 6 hingga 8, sekitar 150 anak muda berkumpul untuk satu misi: membuat game dari nol. Itulah Garena Game Jam 3, yang tahun ini mengusung tema provokatif, "Nothing Works as Expected". Intinya, peserta didorong untuk mematahkan semua konvensi dan aturan biasa dalam pengembangan game. Hasilnya? Tiga puluh tujuh game yang benar-benar tak terduga lahir dari maraton kreatif itu.
Menurut sejumlah saksi, tekanan waktu 48 jam itu nyata. Namun justru di situlah semangat kolaborasi dan pemecahan masalah muncul. Mereka bukan cuma berlomba, tapi juga saling mengisi.
Hal ini diamini oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir memberikan apresiasi. Baginya, acara ini punya nilai strategis yang lebih dalam dari sekadar lomba biasa.
"Industri game itu ekosistemnya luas. Nggak cuma developer, tapi ada artist, community manager, dan banyak peran lain. Kolaborasi seperti di Garena Game Jam inilah kunci buat mendorong industri game nasional," ujar Irene.
Ia juga menekankan bahwa sesi mentoring dari tim Garena, baik dari dalam maupun luar negeri, menjadi nilai tambah yang signifikan bagi para peserta muda tersebut.
Di sisi lain, persaingan untuk menjadi yang terbaik berlangsung ketat. Dan sekali lagi, Universitas Indonesia menunjukkan dominasinya. Dua tim mereka berhasil merebut posisi puncak. Gelar juara akhirnya diraih oleh tim Lelesasa dari UI dengan game berjudul Let Meow Out!.
Artikel Terkait
Tol Cipali Berlakukan Sistem Satu Arah untuk Antisipasi Arus Balik Lebaran
F1 Jepang dan MotoGP AS Ramaikan Akhir Pekan, Veda Ega Pratama Turun di Moto3
Ekonom: Prabowo Hidupkan Kembali Soemitronomics untuk Wujudkan Ekonomi Pancasila
Maguire: Fondasi Amorim Jadi Kunci Kebangkitan Manchester United