Fenomena PETI di Ketapang sebenarnya sudah seperti cerita yang tak pernah usai. Bukan isu baru. Aparat sudah berkali-kali melakukan penertiban, tapi kegiatan ini bagai jamur di musim hujan selalu tumbuh kembali. Banyak yang menduga, keberadaan WNA asal China ini bukanlah suatu kebetulan. Mereka sering dikaitkan dengan operasi tambang yang lebih terorganisir dan butuh keahlian teknis tertentu.
Di sisi lain, posisi masyarakat lokal kerap kali terasa menyedihkan. Hanya menjadi penonton yang tak berdaya, sekaligus korban utama dari kerusakan lingkungan yang ditinggalkan. Mereka yang hidupnya bergantung pada sungai dan hutan, harus menanggung beban terberat.
Harapan warga kini tertumpu pada aparat penegak hukum. Mereka mendesak agar pemerintah segera turun tangan, sebelum aktivitas ilegal ini makin menjadi-jadi. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan transparan. Bukan hanya mengusir para pekerja di lapangan, tetapi juga menindak tegas aktor intelektual dan para cukong yang berada di belakang layar.
Kasus terbaru ini adalah pengingat yang nyata. Ancaman eksploitasi ilegal terhadap kekayaan alam di pedalaman Kalimantan Barat masih sangat hidup. Tanpa langkah strategis dan pengawasan yang ketat, yang hilang bukan cuma emas dari perut bumi. Masa depan lingkungan, serta keselamatan warga yang hidupnya bergantung pada tanah dan sungai, juga terus dikikis secara brutal.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan Besok, 27 Februari 2026
Fiorentina Lolos Dramatis Usai Dihajar Hattrick Mazurek di Liga Konferensi Eropa
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Semarang Hari Ini, 27 Februari 2026