Di tengah riuh rendah dunia bisnis yang semakin kompleks, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas punya pesan sederhana namun krusial: jangan pernah anggap remeh persiapan hukum sejak awal. Menurutnya, membangun fondasi hukum yang kuat sejak dini akan menghindarkan pelaku usaha dari berbagai masalah yang bisa muncul di kemudian hari.
Peringatan ini disampaikan Supratman dalam podcast What’s Up Kemenkum Campus Calls Out yang digelar di Universitas Diponegoro, Rabu (19/11). Ini merupakan episode perdana yang diselenggarakan secara offline setelah sebelumnya tayang 23 kali di channel YouTube Kemenkum RI. Tujuannya jelas: memberikan pemahaman dasar tentang aspek legalitas bisnis kepada para mahasiswa.
"Ini bukan cuma penting," tegas Supratman di Muladi Dome Undip. "Di era globalisasi sekarang, memberikan informasi tentang beneficial owner sejak dini kepada mahasiswa terutama yang sudah memulai bisnis akan membuat segalanya lebih mudah dan aman ketika usaha mereka berkembang nanti."
Pemilihan Undip sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kampus ini dikenal telah melahirkan banyak tokoh hukum ternama Indonesia. Supratman dengan antusias menyebut beberapa nama besar.
"Saya rasa hampir semua orang pernah membaca karya Prof. Satjipto Rahardjo. Lalu siapa yang tidak kenal Prof. Muladi? Beliau mantan Menteri Kehakiman yang sangat saya kagumi. Berkat kontribusinya, akhirnya kita punya KUHP Nasional yang akan berlaku 2 Januari mendatang. Luar biasa memang Undip ini," kenangnya penuh apresiasi.
Di sisi lain, Kepala PPATK Ivan Yustiavandana memberikan perspektif berbeda. Baginya, penerapan beneficial ownership justru soal menciptakan keadilan dalam dunia bisnis.
Ivan memaparkan, selama ini ada dua tipe pelaku usaha. Pertama, yang menjalankan bisnis dengan mengandalkan goodwill dan menghitung untung-rugi secara wajar. Kedua, pelaku yang bisnisnya sekadar kedok untuk pencucian uang, sehingga tidak peduli dengan profit.
"Ini yang berbahaya," jelas Ivan. "Bayangkan, bisnis yang dijalankan dengan goodwill bisa hancur karena harus bersaing dengan usaha yang menjual produk dengan harga murah sekali, sebab tujuan mereka bukan profit."
Menurutnya, masalah muncul ketika beneficial owner dibiarkan bersembunyi. Pelaku kejahatan seperti koruptor atau penambang ilegal bisa dengan leluasa mendirikan perusahaan yang bersaing tidak sehat dengan pengusaha legitimate.
"Mereka bisa jual murah karena memang tidak peduli untung. Tujuan utama mereka cuma satu: mencuci uang," tegas Ivan.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menekankan pentingnya akuntabilitas di era digital seperti sekarang. Menurut Sherly, memulai bisnis dengan cara yang benar adalah kunci.
"Modal bisnis sejati bukan uang, tapi nama baik, reputasi, dan kepercayaan," ujarnya. "Dari akta perusahaan dan laporan keuangan yang transparan, baru bisa datang investor, modal, pelanggan, dan cuan."
Sherly melanjutkan, transparansi menjadi penting karena bisnis membutuhkan modal untuk berkembang. Dan modal selalu memerlukan dokumen-dokumen yang sesuai dengan hukum yang berlaku.
"Setiap pengembangan produk, investor besar, atau proyek besar selalu membutuhkan akuntabilitas dari akta dan laporan keuangan," paparnya.
Dari sisi akademisi, Prof. Paramita Prananingtyas mengungkapkan bahwa Undip telah memasukkan kewirausahaan dalam kurikulum semua program studi. Meski mendorong mahasiswa menjadi entrepreneur, etika bisnis tetap menjadi prioritas utama.
"Etika bisnis harus dipegang sejak awal seseorang memutuskan menjadi pengusaha," tegas Paramita yang juga menjabat Ketua LP2MP Undip.
Ia menambahkan, "Transparansi adalah nomor satu. Ini untuk mencegah penyalahgunaan. Siapa tahu uang yang dititipkan ke Anda hasil TPPU? Keterbukaan dalam berbisnis akan memunculkan kepercayaan."
Acara yang mengusung tema "Bisnis Kampus hingga Bisnis Miliaran" ini berhasil menarik sekitar 2.000 peserta dari berbagai latar belakang mahasiswa, dosen, pelaku usaha muda, hingga founder startup. Melalui talkshow dan diskusi interaktif, generasi muda diajak membangun usaha yang tidak hanya profitable, tapi juga taat hukum dan beretika.
Artikel Terkait
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi
Tiga Buronan KKB Yahukimo Dibawa ke Jayapura untuk Proses Hukum
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India
OSO Ungkap Kedekatan dengan Mahfud MD Berawal dari Persahabatan Lama dan Kesamaan Visi