Ulama vs. Influencer Agama: Siapa yang Lebih Berpengaruh di Era Digital?

- Sabtu, 15 November 2025 | 22:06 WIB
Ulama vs. Influencer Agama: Siapa yang Lebih Berpengaruh di Era Digital?

Dalam tradisi Islam, perbedaan pandangan keagamaan telah lama diakomodir melalui sistem mazhab fikih, seperti Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Perbedaan ini bersifat ilmiah, memiliki metodologi yang jelas, dan berdasar pada dalil serta ijtihad yang terstruktur.

Namun, era digital memunculkan fenomena baru yang bisa disebut sebagai "mazhab digital". "Mazhab" ini tidak dibentuk oleh kedalaman ilmu, melainkan oleh besarnya jangkauan algoritma media sosial. Basis pengikutnya bukan berasal dari komunitas pesantren, tetapi dari kumpulan followers dan jumlah views. Setiap akun dakwah, ustaz muda, atau public figure yang hijrah dapat membentuk "aliran" sendiri, di mana perbedaan seringkali lahir dari gaya penyampaian dan narasi yang sedang viral, bukan dari perdebatan metodologi ilmiah. Situasi ini kerap memicu perdebatan tidak sehat di kolom komentar, berbeda dengan diskusi ilmiah yang produktif di masa lalu.

Kolaborasi: Jalan Tengah Menjawab Tantangan Zaman

Meski tampak berseberangan, ulama dan influencer sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Keduanya memiliki potensi untuk saling melengkapi dalam sebuah kolaborasi yang sinergis. Ulama menawarkan kedalaman dan keakuratan ilmu, sementara influencer memiliki kemampuan untuk memperluas jangkauan dakwah.

Beberapa figur seperti Ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Hanan Attaki adalah contoh nyata pertemuan dua dunia ini. Mereka memiliki basis ilmu yang kuat, namun sekaligus menguasai bahasa dan strategi komunikasi media sosial. Dakwah yang mereka sampaikan tetap berpegang pada prinsip syar'i, tetapi dikemas dengan cara yang segar dan mudah dicerna oleh generasi muda.

Kesimpulan: Merangkul Perubahan dengan Bijak

Inti dari dinamika ini bukanlah persaingan untuk meraih popularitas semata, melainkan tentang siapa yang paling efektif dalam menuntun generasi muda menuju kebaikan dan pemahaman agama yang benar. Generasi Z pada dasarnya tidak menolak nilai-nilai agama; mereka hanya mencari figur panutan yang jujur, autentik, dan mampu berkomunikasi dengan mereka setara.

Di tengah banjir informasi dan distraksi digital, baik ulama maupun influencer agama memikul peran yang sama-sama krusial. Mereka bersama-sama berusaha merebut hati dan pikiran generasi yang akan membentuk masa depan wajah keberagamaan di Indonesia.


Halaman:

Komentar