Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Kediamannya, Libya Berduka dan Bergejolak

- Kamis, 05 Februari 2026 | 02:15 WIB
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Kediamannya, Libya Berduka dan Bergejolak

Pesan tersebut, beserta waktu kemunculannya yang berdekatan dengan pembunuhan, memicu berbagai spekulasi mengenai motif di balik aksi kekerasan ini.

Dari Pewaris Modern hingga Buronan Politik

Untuk memahami signifikansi kematiannya, perlu menengok kembali perjalanan politik Saif al-Islam. Sebelum 2011, ia adalah wajah modern rezim ayahnya. Berpendidikan Barat dan fasih berbahasa Inggris, ia sering menjadi ujung tombak diplomasi Libya, termasuk dalam negosiasi perlucutan senjata dan kompensasi korban Lockerbie.

Citra reformis itu hancur saat revolusi meletus. Ia berubah menjadi pembela paling vokal bagi pemerintahan ayahnya, mengeluarkan ancaman yang memicu kekhawatiran akan perang saudara. Pasca-jatuhnya rezim Gaddafi, hidupnya berliku: ditahan bertahun-tahun di Zintan, dihukum mati in absentia oleh pengadilan di Tripoli, hingga menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Meski dibebaskan pada 2017, ia kembali mengguncang panggung politik dengan mendaftar sebagai calon presiden pada 2021. Pencalonannya justru memicu perpecahan lebih dalam dan menjadi salah satu faktor yang menggagalkan proses pemilihan pada tahun itu.

Latar Belakang: Libya yang Terfragmentasi

Pembunuhan ini terjadi dalam konteks kebuntuan politik yang akut. Libya masih terbelah antara Pemerintah Persatuan Nasional di Tripoli yang diakui PBB dan Pemerintah Stabilitas Nasional di timur yang didukung oleh Khalifa Haftar. Upaya rekonsiliasi dan pemilihan umum terus terhambat oleh perselisihan mengenai pembagian kekuasaan dan pendapatan minyak.

Dalam vakum kekuasaan ini, Saif al-Islam berusaha memosisikan diri sebagai alternatif ketiga. Ia mengandalkan jaringan kesukuan dan sentiment nostalgia akan stabilitas era lama untuk membangun basis dukungan. Kematiannya bukan hanya menambah daftan panjang kekerasan di Libya, tetapi juga menghilangkan satu variabel kunci yang kontroversial sekaligus berpengaruh dari persamaan politik yang sudah sangat rumit. Masa depan negeri itu kini semakin tidak pasti, dengan pertanyaan tentang keadilan dan akuntabilitas yang masih menggantung tanpa jawaban.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar