Kapal induk USS Abraham Lincoln disebut-sebut bakal siap melancarkan operasi dalam waktu dekat. Sangat dekat, bahkan cuma butuh satu atau dua hari lagi untuk menghadapi Iran. Laporan The New York Times yang pertama kali memberitakan hal ini, langsung memicu gelombang analisis di mana-mana.
Tak cuma itu. Untuk memperkuat pukulan, Pentagon juga dikabarkan telah mendatangkan belasan pesawat tempur tambahan. Armada penyerang AS di kawasan itu kian membesar dan siap siaga.
Sebenarnya, kabar pergerakan kapal induk legendaris itu sudah berembus sejak beberapa waktu lalu. Seorang pejabat AS yang dikutip Fox News mengonfirmasi, kelompok tempur USS Abraham Lincoln sudah masuk ke wilayah operasi CENTCOM di Samudra Hindia. Posisinya semakin mendekat.
“Kami mengawasi situasi dengan sangat cermat,” ujar Presiden Donald Trump pada Sabtu lalu, mengiyakan laporan-laporan yang beredar.
Pernyataan itu sejalan dengan sikapnya sebelumnya di akhir Januari. Kala itu, Trump dengan gamblang menyebut kapal-kapal Angkatan Lautnya bergerak ke arah Iran untuk berjaga-jaga. Soal opsi militer? Dia ogah berkomitmen. “Saya tidak bisa bilang apa yang akan terjadi nanti,” katanya, membiarkan spekulasi bergulir.
UEA Tegaskan Posisi: Tolak Jadi Pangkalan Serang
Di tengah memanasnya situasi, ada suara menohok dari sekutu AS di Teluk. Uni Emirat Arab, pada Senin 26 Januari, secara resmi menegaskan komitmennya. Mereka tak akan mengizinkan wilayah udara, darat, atau perairannya dipakai untuk aksi militer bermusuhan terhadap Iran.
Artikel Terkait
Trump Buka Rahasia The Discombobulator, Senjata AS yang Lumpuhkan Venezuela
Kemajuan Rudal Korut Ubah Ancaman Lokal Jadi Bahaya Global
Mural Kapal Induk AS Hancur di Teheran, Iran Kirim Peringatan Visual ke Washington
Mobil Antipeluru Selamatkan Wali Kota dari Serangan RPG di Maguindanao