Lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negerinya, UEA bahkan menegaskan tak akan memberi dukungan logistik apapun untuk serangan ke Tehran. Sikap ini jelas punya bobot politik yang besar.
Negara itu percaya bahwa jalan keluar terbaik dari krisis ini adalah lewat dialog dan de-eskalasi. Menghormati kedaulatan dan hukum internasional, menurut mereka, adalah fondasi yang paling efektif. Tampaknya, UEA memilih jalur diplomatik yang lebih hati-hati.
Ketegangan Washington-Tehran sendiri sudah memanas berbulan-bulan. Pemicunya beragam, mulai dari gelombang protes dalam negeri Iran akibat ekonomi yang sulit, hingga ancaman-ancaman yang saling dilemparkan. Media AS melaporkan, kedatangan Lincoln beserta tiga kapal perusak pendampingnya di Samudra Hindia pada Jumat lalu, adalah bagian dari antisipasi serangan.
Armada AS Bergerak, Ancaman Membayang
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah armada Amerika sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah. Itu fakta yang dikonfirmasi sendiri oleh Trump. Pemerintahannya terus bersikeras bahwa semua opsi termasuk tindakan militer masih terbuka di meja mereka, seiring upaya bersama dengan Israel untuk mengubah rezim di Tehran.
Iran tentu tak tinggal diam. Para pejabatnya sudah berulang kali memperingatkan bahwa serangan AS apa pun akan dibalas dengan respons yang cepat dan sangat luas. Mereka punya pengalaman.
Ingat perang 12 hari di Juni 2025? Kala itu, Israel yang didukung AS melancarkan serangan, yang langsung dibalas Tehran dengan hujan drone dan rudal. Gencatan senjata akhirnya dideklarasikan Washington, tapi rasa saling curdi dan ancaman itu tak pernah benar-benar hilang. Kini, dengan Lincoln yang semakin mendekat, sejarah terasa seperti ingin berulang.
Artikel Terkait
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung