Tekanan terhadap Gedung Putih untuk bertindak keras terhadap Iran semakin kuat. Presiden Donald Trump, meski masih menahan diri, menghadapi desakan untuk membalas tindakan rezim Iran terhadap para demonstran. Operasi militer AS bukan lagi sekadar ancaman kosong itu adalah skenario yang sangat nyata. Menurut beberapa pejabat, titik kritisnya mungkin hanya tinggal hitungan minggu.
Nah, prospek perang ini bikin hampir seluruh Timur Tengah kecut. Israel mungkin satu-satunya yang tidak terlalu khawatir. Bagi negara-negara tetangga Iran, serangan AS justru dinilai sebagai langkah gegabah yang bakal memicu badai risiko: mulai dari gejolak politik, ekonomi, hingga ancaman keamanan yang sulit dikendalikan.
Stabilitas, Bukan Ganti Rezim
Yang ditakutkan banyak pemimpin regional bukan soal jatuhnya pemerintah Iran. Mereka justru cemas dengan dampak destabilisasi yang langsung menyusul. Intervensi militer AS dan Israel dikhawatirkan malah melahirkan kekacauan panjang, bahkan perang saudara. Bayangkan gelombang pengungsi besar-besaran membanjiri negara-negara yang sistem politik dan ekonominya sudah rapuh.
Kekacauan di Iran juga berpotensi membangkitkan gerakan separatis di wilayah-wilayah minoritas, seperti etnis Arab, Baloch, atau Kurdi. Ini jelas jadi mimpi buruk bagi negara seperti Turki dan Pakistan. Ancaman fragmentasi Iran bisa dengan cepat menular ke seluruh kawasan.
Bagi banyak pihak, rezim di Teheran seberapapun tidak disukai masih lebih bisa diprediksi daripada ketidakpastian pasca-keruntuhan. Serangan AS berisiko memicu pembalasan Iran yang menghantam infrastruktur energi, jalur pelayaran, dan instalasi militer di sekitarnya. Dampaknya? Perdagangan macet, investasi menguap, keamanan laut kacau.
Pemerintah regional lebih takut pada efek domino yang tak terkendali: serangan siber, aksi milisi, teror, gejolak pasar, dan ketidakamanan yang menjalar ke Irak, negara-negara Teluk, Lebanon, Suriah, hingga Yaman. Intinya, mereka memandang eskalasi militer sebagai langkah yang tidak rasional secara strategis. Status quo, meski tegang, dinilai sebagai pilihan teraman.
Agak sinis memang, tapi banyak negara justru melihat Iran yang melemah di bawah sanksi sebagai sesuatu yang lebih bisa dikelola. Mereka paham betul, keruntuhan tiba-tiba bisa menciptakan kekosongan kekuasaan atau melahirkan aktor militan baru yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Dia menambahkan, Arab Saudi misalnya, sangat khawatir dengan potensi kerusuhan di Provinsi Timur mereka sendiri jika Iran kacau. “Setiap eskalasi bisa memberdayakan kaum radikal dan memperburuk polarisasi sektarian,” imbuhnya.
Kehati-hatian ini juga lahir dari pengalaman pahit. “Keengganan mengambil risiko sangat bisa dimengerti setelah kegagalan di Irak, Afghanistan, dan Libya,” kata Bitar. Bahkan sekutu AS pun kini skeptis dengan strategi Washington di Timur Tengah, terutama di era Trump yang penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Luanniao: Kapal Induk Angkasa China, Ambisi Nyata atau Senjata Psikologis?
Kuba Pamer Kekuatan Militer, Jawab Ancaman Trump dengan Parade Tank
Ketika Dunia Memanas, Inilah 10 Negara yang Bisa Jadi Tempat Berlindung
Rencana Rahasia Kanada: Siapkan Perang Gerilya Jika AS Invasi