Ledakan di Teheran akhir Februari lalu bukan cuma mengguncang tanah Iran. Lebih dari itu, serangan itu memantik kecaman dari berbagai penjuru, termasuk dari dalam negeri. Organisasi Islam Muhammadiyah, melalui ketua PP-nya Syafiq Mughni, secara terbuka menyatakan sikap prihatin dan mengecam aksi militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel tersebut.
Rasa duka juga mereka sampaikan. "Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, beserta korban-korban lain dalam serangan itu," ujar Syafiq kepada para wartawan, Rabu (3/3/2026).
Tak berhenti di situ, belasungkawa serupa juga ditujukan bagi korban yang jatuh dalam serangan balasan Iran di sejumlah negara Arab.
Bagi Muhammadiyah, serangan ini jelas melampaui batas. Menurut Syafiq, aksi ini terang-terangan mengabaikan hukum internasional dan berbagai keputusan yang telah disepakati di forum PBB. "Kami memandangnya sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia yang serius," tegasnya.
Karena itu, ada tuntutan yang jelas.
"PBB harus memberi sanksi tegas kepada AS dan Israel. Sanksi itu perlu diwujudkan dalam langkah nyata, tidak boleh sekadar pernyataan," tambah Syafiq, menekankan poinnya.
Di sisi lain, momentum ini juga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mengingatkan dunia akan konflik lain yang tak kunjung usai. Muhammadiyah mendorong PBB dan OKI untuk segera bertindak menghentikan apa yang mereka sebut sebagai genosida terhadap bangsa Palestina. Semua bentuk kekerasan harus diakhiri agar ketegangan di Timur Tengah tidak terus meluas dan menjalar.
"Kami berharap Iran dan negara-negara Arab bisa menahan diri. Dialog harus diutamakan agar sesama anggota OKI tidak terjerumus dalam konflik yang lebih dalam," paparnya.
Jalan diplomasi, menurutnya, tetap merupakan opsi terbaik untuk meredakan ketegangan dan mencari penyelesaian di kawasan itu.
Lebih luas lagi, seruan ini ditujukan kepada semua pihak. Negara mana pun, lembaga multilateral, tokoh agama, hingga kekuatan masyarakat sipil diajak bersama-sama menciptakan perdamaian global. Mereka juga mengecam segala aksi semena-mena yang berpotensi merusak peradaban.
Sebagaimana diberitakan, serangan AS dan Israel ke wilayah Iran terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kompleks kediaman Khamenei di Teheran dilaporkan menjadi sasaran, dihujani puluhan bom.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei. Melalui unggahan di Social Truth, platform medianya, Trump menyampaikan kabar itu dengan nada khasnya.
"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,"
tulisnya, seperti dilansir AFP pada Minggu (1/3/2026). Pernyataan itu sekaligus mengukuhkan bahwa sang Ayatollah tewas dalam serangan yang menggemparkan itu.
Artikel Terkait
Jembatan Peninggalan Belanda di Klaten Hidup Kembali Setelah 13 Tahun
Karnaval Paskah Semarakkan Semarang, Kibarkan Bendera Raksasa dan Semangat Kebersamaan
Pertamina Patra Niaga Raih Empat Penghargaan Indonesia WOW Brand 2026
Presiden Prabowo Tandatangani Perpres Pengelolaan Kesehatan Terpadu