Bayar Duka di Garis Depan: Trauma dan Cedera Moral Melanda Tentara Israel Usai Dua Tahun Perang Gaza

- Minggu, 18 Januari 2026 | 21:25 WIB
Bayar Duka di Garis Depan: Trauma dan Cedera Moral Melanda Tentara Israel Usai Dua Tahun Perang Gaza

Ronen Sidi, seorang psikolog klinis yang meneliti veteran di Emek Medical Center, menjelaskan bahwa banyak tentara bergumul dengan rasa bersalah mendalam atas tindakan mereka di medan perang. Cedera moral ini muncul saat apa yang mereka lakukan bertabrakan dengan suara hati dan nilai-nilai yang mereka pegang.

"Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan Anda tidak dapat memperbaiki apa yang telah Anda lakukan,"

ujar Sidi, seperti dikutip media.

Dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh Paul, 28 tahun, ayah tiga anak yang sebelumnya bekerja sebagai manajer proyek. Kini, sebagai tentara cadangan yang baru pulang, suara desing peluru masih terus mengusik pikirannya. Ia hidup dalam keadaan siaga tinggi terus-menerus, seolah-olah masih berada di zona pertempuran, padahal secara fisik sudah kembali ke rumah.

Sayangnya, jalan untuk mendapatkan pertolongan tidaklah mulus. Birokrasi berbelit justru jadi penghalang besar. Tentara yang butuh bantuan harus melewati proses penilaian komite dari Kementerian Pertahanan sebuah prosedur yang bisa makan waktu berbulan-bulan dan seringkali justru mematahkan semangat mereka untuk melanjutkan.

Akibatnya, sistem kesehatan mental Israel pun kewalahan. Lembaga-lembaga terkait kebanjiran permintaan, dan banyak korban trauma yang tak kunjung mendapat terapi. Bahkan, banyak yang tidak menyadari bahwa tekanan berat yang mereka rasakan itu adalah dampak langsung dari apa yang mereka alami di lapangan.

"Risiko untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri akan meledak jika ini tidak ditangani dengan serius," kata Sidi dalam kesempatan lain. Sebuah peringatan yang keras, di tengah perang yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.


Halaman:

Komentar