Memang, Venezuela sudah lama masuk dalam daftar hitam perjalanan AS dengan status Level 4: "Jangan Bepergian". Alasannya panjang: risiko penahanan sewenang-wenang, kekerasan, bahkan penculikan. Ditambah lagi dengan kerusuhan sipil dan sistem kesehatan yang amburadul. Jadi, peringatan terbaru ini seperti menggarisbawahi bahwa level bahayanya sudah berada di titik puncak.
Latar belakangnya tentu tak lepas dari ketegangan politik yang memanas belakangan. Operasi penangkapan terhadap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS beberapa waktu lalu jelas memicu gelombang baru. Namun begitu, ada sedikit angin perubahan yang mencoba meredakan tensi.
Menurut Reuters, Presiden Donald Trump disebut-sebut membatalkan rencana serangan lanjutan setelah otoritas Venezuela membebaskan sejumlah tahanan politik. Hingga akhir pekan, sekitar 18 orang telah dilepaskan.
Pembebasan ini bisa dilihat sebagai langkah pertama menuju de-eskalasi, sebuah sinyal yang mungkin ditunggu banyak pihak. Meski begitu, bagi kelompok pegiat HAM, langkah ini masih jauh dari cukup. Mereka mengingatkan, ratusan tahanan politik lainnya masih terkurung di penjara-penjara Venezuela, menunggu keadilan yang belum jelas wujudnya.
Jadi, sementara pemerintah kedua negara mungkin sedang bermain kartu diplomasi, di lapangan, rasa takut dan ketidakpastian masih menjadi menu sehari-hari. Dan bagi warga AS yang tersisa di sana, pesannya jelas: saatnya berkemas.
Artikel Terkait
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Waspadai Perburuan Pasca Penangkapan Maduro
Latihan Militer Tiga Negara di Afrika Selatan: Sinyal di Tengah Gejolak Global
Trump Klaim Hanya Moralitas Pribadi yang Bisa Menghentikannya
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu