Sejak Oktober lalu, skenarionya sudah mulai terlihat. Intinya, struktur kekuasaan lama dipertahankan, cuma tokoh utamanya yang diganti. Istilah kerennya, "Madurismo tanpa Maduro". Tujuannya jelas: agar transisi berjalan mulus, tanpa gejolak besar yang bisa bongkar seluruh sistem.
Keterlibatan AS makin kentara waktu Donald Trump buka suara. Pada Sabtu, 3 Januari 2026, dia secara terbuka bilang Washington akan "mengelola" Venezuela lewat pemerintahan transisi pimpinan Delcy Rodriguez.
Lucunya, Rodriguez sendiri sebelumnya kena sanksi AS karena dituduh melemahkan demokrasi Venezuela. Politik memang penuh ironi.
Isu pengkhianatan internal makin kencang setelah mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon, angkat bicara. Dia dengan tegas menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi dari dalam.
Santos juga bilang, Trump sudah jelas menunjuk Rodriguez sebagai tokoh kunci. Tapi dia menduga Rodriguez akan cari cara untuk menjaga jarak, dapatkan sedikit ruang gerak agar tidak terlihat seperti boneka AS sepenuhnya.
Kalau semuanya benar, kejatuhan Maduro ini bukan cuma soal pergantian presiden. Ini lebih dalam: sebuah pergeseran kekuasaan yang lahir dari kompromi gelap para elite, negosiasi di balik pintu tertutup, dan tabrakan kepentingan geopolitik yang ruwet. Babak baru untuk Venezuela, dengan pemain lama yang memakai topeng baru.
Artikel Terkait
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
Kapal Tanker Rusia Disita AS, Moskow Balas dengan Kapal Perang
AS Akhirnya Meringkus Dua Kapal Tanker Armada Bayangan Venezuela