Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian 40 Hari Meninggalnya Vidi Aldiano di Jakarta

- Sabtu, 18 April 2026 | 21:30 WIB
Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian 40 Hari Meninggalnya Vidi Aldiano di Jakarta

Malam Sabtu (18/6/2026) di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, suasana terasa berbeda. Masjid Raya Nurul Hidayah dipenuhi ribuan orang. Mereka berkumpul untuk satu tujuan: menghadiri pengajian 40 hari meninggalnya Vidi Aldiano. Suasana khidmat langsung terasa begitu kaki melangkah masuk.

Acara dimulai dengan jamuan sederhana. Para jamaah yang datang disuguhi makanan ringan sebelum kemudian bersama-sama menunaikan shalat Isya. Ritme malam itu berlanjut dengan tausyiah yang disampaikan oleh Habib Husein Jafar. Sebagai sahabat dekat almarhum, ceramahnya terasa sangat personal dan menyentuh.

"Kita kehilangan sosok yang baik. Tapi malam ini, kita kumpulkan doa untuknya," ujar Habib Husein di sela-sela tausyiahnya.

Setelah itu, lantunan Surat Yasin bergema menyatu dari ribuan suara jamaah. Bagian dalam masjid benar-benar penuh sesak. Bahkan, area luar pun dipadati mereka yang ingin ikut mendoakan. Lantunan dzikir dan ayat suci Al-Qur'an tak putus mengalir, memperdalam nuansa sakral yang sudah terbangun sejak tadi.

Perlu dicatat, mayoritas yang hadir adalah masyarakat sekitar dan kolega keluarga. Wajah-wajah yang terlihat adalah orang biasa, bukan publik figur. Sampai berita ini diturunkan, belum terlihat kehadiran rekan artis Vidi Aldiano di lokasi. Mungkin mereka memberi ruang privasi untuk keluarga, atau mungkin hadir dengan cara yang tak mencolok.

Di sisi lain, antusiasme jamaah tak bisa dipungkiri. Mereka terlihat khusyuk mendengarkan setiap rangkaian acara. Pengajian ini akhirnya ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Habib Husein. Harapannya tentu satu: agar almarhum Vidi Aldiano ditempatkan di sisi-Nya yang terbaik.

Malam pun berakhir. Para jamaah beranjak pulang dengan hati yang mungkin sedikit lebih tenang. Prosesi 40 hari itu bukan sekadar ritual, tapi lebih sebagai wujud cinta dan penghormatan terakhir dari mereka yang ditinggalkan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar