Di sisi lain, Adam tak sekadar menemani. Ia dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk melindungi korban dari segala bentuk tekanan atau intervensi. "Saya yang back up dan pasang badan kalau ada intervensi ke korban," tuturnya. Komitmennya mungkin tak lepas dari fakta bahwa ia sendiri juga menjadi korban. Dengan terus terang, Adam mengaku mengalami kerugian hingga Rp150 juta dari pihak yang sama, yang ia sebut sebagai "TR".
"Pasti saya laporkan juga," janjinya. "Cuma sekarang saya cek dulu siapa saja yang mencoba intervensi."
Para korban ini ternyata tidak berjuang sendiri-sendiri. Mereka membentuk sebuah paguyuban di media sosial. Di sanalah mereka saling berbagi informasi, bukti, dan tentu saja, saling menguatkan. Bahkan, untuk memastikan korban benar-benar sampai ke Polda, Adam sampai menjemput mereka. Langkah kecil ini penting untuk mengurangi tekanan psikologis yang mungkin mereka rasakan.
Modus penipuannya sendiri, menurut Adam, klasik tapi efektif: iming-iming. Korban dijanjikan keuntungan besar, bahkan dijanjikan pengembalian dana jika mengalami kerugian. "Sistemnya pakai iming-iming dan janji kalau loss akan dibalikin," ungkapnya. Sebelum akhirnya melapor, korban sempat mencoba meminta pertanggungjawaban secara baik-baik. Sayangnya, upaya itu seperti berbicara dengan tembok. "Mereka merasa tidak ada tanggapan serius dari pihak TR dan academy-nya," kata Adam.
Dugaan Adam, kasus ini masih akan berkembang. Jumlah korban dan nilai kerugian diprediksi akan terus bertambah. Angkanya bisa mencapai level yang fantastis. "Kalau ditotal," tutupnya dengan nada prihatin, "kerugiannya bisa tembus sekitar Rp200 miliar."
Sebuah angka yang membuat siapa pun terhenyak.
Artikel Terkait
Marcell Siahaan Rilis Menuju Cahaya, Single Religi dengan Sentuhan Istri dan Nuansa Elektronik
Selebritas Berparas Bule di Indonesia Kerap Disangka Mualaf, Padahal Muslim Sejak Lahir
Ammar Zoni Kecewa Saksi Kunci Tak Hadir di Sidang Narkoba
Ahmad Dhani Ungkap Kesulitan Ekonomi Saat Antar Anak Sambung Kuliah di AS