JAKARTA – Bulan puasa memang bulan yang penuh berkah. Banyak orang memanfaatkannya untuk kian mendekatkan diri. Tapi, coba bayangkan, bagaimana rasanya menjalani ibadah sebulan penuh kalau badan justru gampang drop? Imunitas yang terjaga jelas jadi kunci.
Nah, soal imun ini, rupanya sangat dipengaruhi apa yang kita lakukan dan santap sehari-hari, terutama saat sahur dan berbuka. Makanya, pemilihan menu makan perlu benar-benar diperhatikan, tidak boleh asal kenyang.
Ada tips menarik dari Ade Rai, influencer kebugaran yang juga binaragawan. Menurutnya, kunci menjaga stamina selama puasa justru terletak pada waktu sahur. Bukan cuma sekadar formalitas atau ritual simbolis, tapi lebih ke strategi menjaga metabolisme agar tetap stabil sepanjang hari.
Dalam sebuah video di channel Dunia Ade Rai, ia menekankan hal ini.
"Sahur itu menjadi sesuatu yang krusial. Jadi teman-teman, sahur mau dijadikan sebagai sebuah simbol saja yang penting saya sudah sahur, bangun lalu melakukan aktivitas itu enggak masalah,"
Namun begitu, kalau mau dilihat dari sisi kesehatan, ada strategi khusus yang ia sarankan.
Sahur Tanpa Karbo
Ade Rai punya saran yang mungkin mengejutkan: hindari karbohidrat saat sahur. Loh, kok bisa? Gantinya, ia menganjurkan untuk mengonsumsi nutrisi yang dicerna lebih lambat, seperti protein dan lemak sehat. Jenis makanan ini tidak memicu lonjakan insulin drastis.
"Tapi kalau saya berbicara secara strategi kesehatan, kalau berkenan teman-teman jangan masukkan karbo. Jadi kalau teman-teman mau masukinnya berarti apa? Masukinnya bisa protein, bisa lemak,"
Contohnya? Telur, ayam, atau ikan. Itu semua bisa jadi pilihan sumber energi yang jauh lebih stabil. Dengan begini, tubuh tidak akan mengalami fluktuasi gula darah yang bikin lemas berlebihan di siang hari.
"Nah, idealnya yang paling gampang itu adalah biasanya udah pasti telur. Tapi kalau bisa jangan masukin karbo,"
Logikanya begini. Strategi ini bermula dari hitungan durasi jeda makan. Kalau konsumsi karbohidrat terakhir dilakukan sekitar pukul 22.00 malam dan tidak diulang saat sahur, maka tubuh punya jeda panjang sekitar 18 sampai 20 jam tanpa lonjakan gula darah yang berarti.
"Dari jam 10 malam nanti baru ketemu lagi di jam 6.15 itu kurang lebih sekitar 18 sampai 20 jam itu tidak terjadi yang namanya lonjakan gula darah yang terlalu tinggi tuh teman-teman, jadi lonjakan gula darahnya dia standar aja,"
Manfaatnya apa? Dengan gula darah yang stabil, tubuh akan dipaksa mencari bahan bakar dari tempat lain. Karena tidak ada asupan karbo baru di pagi hari, otomatis tubuh akan membongkar cadangan energi yang tersimpan dalam lemak. Situasi ini, kata Ade, justru menguntungkan untuk komposisi tubuh secara keseluruhan.
"Setelah itu badan sudah akan mencari alternatif sumber energi lain. Which is adalah dia akan ambilnya dari lemak sebagai stored energy, cadangan energi. Jadi di tips nomor 1 saya adalah kita make sure di sahur kalau bisa tidak terjadi lonjakan gula darah,"
Jadi, sederhananya, sahur tanpa karbo adalah triknya. Bukan untuk menyiksa diri, tapi justru agar tubuh lebih efisien menggunakan energi dan imun tetap terjaga selama menjalani puasa.
Artikel Terkait
Nikita Mirzani Soroti Perlakuan Hukum Berbeda untuk dr. Richard Lee
Tips Atur Pola Tidur dan Asupan Makanan untuk Jaga Kebugaran Selama Ramadan
Ahli Ingatkan Risiko Kalori Tinggi di Balik Tren Kurma Keju Saat Berbuka
Awkarin Sindir Balik Geng Reza Arap Usai Dikaitkan dengan Sindiran Fisik