Suasana merah dan emas sudah mulai terlihat di berbagai sudut kota. Ya, perayaan Tahun Baru Imlek tinggal sebentar lagi. Momen ini selalu identik dengan tradisi-tradisi ikonik: barongsai yang riuh, makan malam keluarga yang hangat, dan tentu saja, bagi-bagi angpao.
Tapi, ada satu hal lain yang seolah jadi paket lengkap Imlek. Hujan. Rasanya, hampir tak pernah absen. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar kebetulan cuaca. Turunnya air dari langit justru disambut dengan sukacita, dianggap sebagai simbol keberuntungan dan pembawa rezeki di tahun yang baru. Bahkan, ada yang meyakini rintik hujan itu adalah jawaban langsung dari doa-doa mereka.
Menariknya, anggapan ini punya akar yang dalam. Budayawan Tionghoa Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, menegaskan kaitan itu bukan mitos kosong.
Pandangan serupa muncul dalam ilmu Feng Shui, di mana elemen air (Shui) sering dikaitkan dengan kekayaan. Jadi, wajar jika hujan dianggap seperti kucuran rezeki dari langit.
Namun begitu, di balik makna spiritualnya, ada penjelasan ilmiah yang cukup gamblang. Menurut BMKG, ada alasan klimatologis yang masuk akal. Imlek, yang mengikuti penanggalan lunisolar, selalu jatuh antara akhir Januari dan pertengahan Februari. Nah, periode Desember hingga Februari itu sendiri adalah puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia, terutama Jawa dan Nusa Tenggara.
Artikel Terkait
Facial Terlalu Sering? Ahli Ingatkan Risiko Rusaknya Skin Barrier
Lula Lahfah, Selebgram dan Kekasih Reza Arap, Tutup Usia di Usia 26 Tahun
Riset Ungkap Alasan di Balik Dorongan Belanja Saat Menjelang Haid
Waspada Bocor! Ini Cara Ampuh Lindungi Atap Rumah Saat Hujan Tiba