Jadi, ya, wajar saja kalau Imlek sering basah oleh hujan. Probabilitasnya memang tinggi. Ini dipicu dinamika atmosfer, di mana Monsun Asia sedang aktif membawa udara basah dan memicu pembentukan awan hujan yang intens. Singkatnya, perayaan itu kebetulan atau mungkin sengaja diatur tepat bertepatan dengan puncak musim basah di Nusantara.
Di sisi lain, persepsi tentang hujan Imlek ini ternyata punya nuansa lokal yang kuat. Tokoh Tionghoa asal Solo, Sumartono Hadinoto, punya pandangan yang menarik.
Ia menambahkan, leluhur mengajarkan cara pandang yang positif. Alih-alih mengeluh karena hujan mengganggu acara, masyarakat diajak untuk mensyukurinya sebagai sebuah berkah.
Jadi, apakah hujan saat Imlek sekadar kebetulan alam? Tergantung dari mana Anda melihatnya. Dari kaca mata sains, iya. Tapi bagi yang merayakan, ia telah menjelma menjadi bagian dari tradisi dan harapan sebuah kearifan lokal yang mengubah tetesan air biasa menjadi pertanda baik untuk menyongsong musim semi dan tahun baru.
Artikel Terkait
Mister Aladin Tawarkan Paket Tur 4 Hari Bangkok-Pattaya Mulai Rp 6,6 Juta
TXT Dikritik karena Diduga Gunakan AI Murahan di Trailer Comeback
Jobstreet Luncurkan Fitur Pencarian Kandidat Gratis untuk Akses 50 Juta Profil
Putri Akbar Tandjung, Karmia Krissanty, Wafat Setelah Berjuang Melawan Kanker