Namun begitu, jalan menuju sana masih dipenuhi tantangan. Prof. Nila menyoroti satu persoalan yang mungkin mengejutkan.
“Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan justru banyak terjadi pada anak remaja dan usia sekolah. Dulu kita menyangka lansia yang paling rentan, ternyata bukan,” ujarnya membuka acara pada Jumat (23/1) itu.
Di sisi lain, persoalan literasi kesehatan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Prof. Ratna Sitompul dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkat bicara.
“Literasi kesehatan adalah kewajiban kita untuk memberikannya kepada masyarakat, bukan kewajiban masyarakat untuk mencarinya sendiri,” tegasnya.
Ia memberi contoh nyata, seperti penanganan diabetes dan TBC. Regulasi sebenarnya sudah ada, tapi implementasinya belum optimal. Penyebabnya beragam, mulai dari beban kerja tenaga kesehatan yang menumpuk hingga materi edukasi yang sulit dicerna masyarakat biasa.
Menurut Prof. Ratna, upaya promosi dan pencegahan harus benar-benar didukung. Caranya? Dengan memperkuat layanan primer, memanfaatkan teknologi yang tepat guna, dan tentu saja, kebijakan kesehatan yang konsisten dan berpihak pada upaya preventif.
Dari diskusi itu, muncul sejumlah rekomendasi. Beberapa di antaranya adalah integrasi pendidikan kesehatan ke dalam kurikulum nasional, kolaborasi yang erat antar kementerian, dan penguatan literasi kesehatan berbasis komunitas. Langkah-langkah strategis ini diharapkan bisa mengantar sistem kesehatan Indonesia ke arah yang lebih adil dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Minggu Pertama Ramadan: Saat Tubuh Protes dan Cara Menyiasatinya
Masa Muda Elle Woods Terungkap, Serial Elle Tayang 2026
Sarapan Anak: Dokter Ungkap 8 Menu yang Tepat dan yang Harus Dihindari
Sarapan Anak: Dokter Ungkap Menu yang Bikin Semangat dan yang Bikin Ngantuk