Kisah Aurelie Moeremans yang berani menceritakan pengalamannya sebagai korban child grooming lewat memoar "Broken Strings" benar-benar menyita perhatian. Bukan cuma sekadar berita, tapi ini membuka mata banyak orang soal betapa liciknya manipulasi dan eksploitasi terhadap anak di bawah umur.
Dukungan untuk Aurelie pun berdatangan, dari warganet biasa hingga selebritas papan atas. Tapi, di tengah gelombang dukungan itu, ada juga suara-suara sumbang. Beberapa netizen malah melontarkan pertanyaan yang intinya menyalahkan sang korban. Miris, tapi nyata.
Pertanyaan klasik itu selalu muncul: "Kenapa nggak melawan?"
Buat yang bertanya begitu, jawabannya nggak sesimpel yang dibayangkan. Menurut para psikolog, child grooming itu sendiri adalah sebuah proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa atau siapa pun yang punya kuasa terhadap anak di bawah umur. Tujuannya jelas: mengeksploitasi, terutama secara seksual.
Seperti dijelaskan psikolog klinis Cinta Retsa Ferdiana, M.Psi., ini bukan kejadian satu malam. Ini proses bertahap yang pelan-pelan menjerat korban.
Caranya? Pelaku biasanya membangun rasa nyaman dulu. Mereka menghujani perhatian, membangun kepercayaan, dan membuat si anak merasa dirinya spesial. Setelah itu, barulah eksploitasi itu dimulai. Korban yang masih belia terjebak dalam jaring yang sudah ditenun rapi.
Lalu, kenapa susah banget buat korban buat kabur atau nolak?
Psikolog anak dan remaja Anastasia Satriyo, M.Psi., punya penjelasan ilmiah yang masuk akal. Jawabannya ada di dalam otak remaja yang memang belum sepenuhnya matang.
“Otak remaja belum matang untuk melindungi diri secara strategis. Di usia 15–18 tahun, prefrontal cortex atau bagian otak untuk menilai risiko, membuat keputusan jangka panjang, dan berkata “tidak”, belum matang,” tulis Anastasia di Threads.
“Bahasa gampangnya, bagian otak untuk menilai bahaya dan berkata “tidak” belum matang. Emosi besar, tapi kemampuan melindungi diri belum kuat,” imbuhnya.
Nah, di sisi lain, Cinta menambahkan dimensi psikologis lainnya. Manipulasi yang berulang bisa bikin korban mengalami confusion attachment. Intinya, korban jadi bingung sendiri. Di satu sisi, mereka merasa hubungannya dengan pelaku itu salah. Tapi di sisi lain, pelaku selalu tampak baik dan perhatian. Rasa bersalah pun ditanamkan pelaku, sehingga korban malah menyalahkan diri sendiri ketika menyadari ada yang tidak beres.
“Sebenarnya pelaku secara tidak langsung membangun kelekatan yang palsu. Lalu, terjadilah confusion attachment. Jadi, sebenarnya tidak serta-merta dia merasa, ‘Oh, ini baik.’ Padahal, beberapa korban justru merasa, ‘Hubungan ini salah, tapi, kok, dia baik, ya, sama aku?’” jelas Cinta.
Jadi, simpulannya begini. Seorang korban child grooming yang masih anak-anak atau remaja sulit "melawan" bukan karena mereka lemah atau pasrah. Penyebabnya kompleks: bagian otak yang bertugas menilai risiko dan mengambil keputusan jangka panjang memang belum siap bekerja penuh. Ditambah lagi, ada kebingungan dan rasa bersalah yang sengaja diciptakan pelaku lewat manipulasi bertahap. Semuanya membuat korban terjebak dalam situasi yang sulit dilawan sendirian.
Artikel Terkait
The Margo Hotel Hadirkan 1001 Flavors Ramadan Buffet Bertema Timur Tengah
Mulai 2027, Pemerintah Gratiskan Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki Usia 11 Tahun
Inara Rusli Ungkap Upaya Permintaan Maaf ke Wardatina Mawa Lewat Unggahan Instastory
Kasus Dugaan Perzinaan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Naik ke Tahap Penyidikan