Di depan kerumunan wartawan yang menunggu di Polda Metro Jaya, Dokter Tifa atau Tifauzia Tyassuma tak tampak gentar. Wajahnya justru penuh keyakinan. Ia datang bukan cuma untuk urusan pelimpahan berkas kasus pencemaran nama baik Jokowi, tapi juga untuk menyuarakan lagi keraguannya yang paling mendasar: soal keaslian ijazah Presiden ketujuh Republik Indonesia itu.
"Kami tetap yakin," begitu kira-kira sikapnya. Keyakinan itu, katanya, bukan datang dari angin. Ia menyebut angka yang spesifik: 709 dokumen. Itulah jumlah total dokumen pendidikan Jokowi yang ia sebut-sebut. Menurut penuturannya, baru sebagian kecil yang terbuka untuk publik.
Nah, soal transparansi ini ia angkat berkali-kali. Hak konstitusional, begitu ia menyebutnya. Ia merujuk pada pernyataan Bareskrim Polri di akhir Mei tahun lalu, yang mengakui hanya sejumlah dokumen yang sudah dibuka. Lalu bagaimana dengan sisanya?
Di sisi lain, argumennya lebih tajam lagi ketika masuk ke ranah teknis. Dokter Tifa dan dua rekannya yang ia sebut "kami bertiga" klaim sudah melakukan penelitian metodologis. Hasilnya? Mereka mendapati kejanggalan pada skripsi dan transkrip nilai yang selama ini beredar.
Artikel Terkait
Zaman Dajjal Kecil: Saat Kebenaran dan Kepalsuan Tak Lagi Bisa Dibedakan
Duka di Rumah Masa Kecil Yoga, Korban Pesawat Hilang Kontak
Di Balik 790 Mata yang Menatap: Kisah Shelter Bekasi yang Jadi Harapan Terakhir Kucing Jalanan
Iran Buka Suara: 5.000 Jiwa Melayang dalam Gelombang Protes Terbesar Sejak Revolusi