Ia bahkan membandingkan. Saat berbicara, ia seolah membawa bukti perbandingan: transkrip nilai lulusan UGM tahun 1985 dari seorang lain, Bambang Budy Harto. "Harusnya seperti ini," katanya, "bukan seperti yang ditunjukkan Bareskrim waktu itu."
Dari analisis tiga pilar dokumen itu ijazah, transkrip, dan skripsi ia menarik kesimpulan yang sangat pasti. Bahkan nyaris mutlak.
Pernyataan keras ini disampaikannya justru ketika statusnya sebagai tersangka semakin kuat. Berbeda dengan Eggi Sudjana yang memilih jalan lain, Dokter Tifa seperti sengaja mengambil posisi yang lebih berani. Ia tak mundur. Malah, kunjungannya ke Polda itu ia jadikan momentum untuk kembali mengingatkan publik tentang tuntutan transparansi yang menurutnya masih menggantung.
Suasana di lokasi memang tegang. Tapi di balik itu, yang ia pertahankan adalah narasi tentang hak warga negara untuk tahu. Entah bagaimana kasus hukumnya nanti berakhir, satu hal yang jelas: ia tetap pada pendiriannya. Seratus persen.
Artikel Terkait
Mikrofon Dimatikan Saat Kerabat Keraton Solo Protes di Acara Penyerahan SK Menteri
Dari Daster ke Imperium: Kisah Arif Muhammad dan Kerajaan Mak Beti
Serpihan Ditemukan, Menteri Perhubungan Pantau Langsung Pencarian ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Noe Letto di Wantimpres: Penunjukan Strategis atau Strategi Penjinakan?