Piala Dunia 1962: Lahirnya Sistem Kartu dari Kekacauan Battle of Santiago

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:00 WIB
Piala Dunia 1962: Lahirnya Sistem Kartu dari Kekacauan Battle of Santiago

Jika Piala Dunia 1958 dikenang sebagai panggung kelahiran legenda Pele dengan permainan indah Brasil, maka edisi ketujuh di Cile pada 1962 justru meninggalkan jejak kelam yang tak terlupakan. Turnamen ini tidak hanya diwarnai tekel-tekel keras dan perkelahian antarpemain, tetapi juga intervensi polisi di dalam lapangan. Bahkan, salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah sepak bola lahir di ajang ini. Meskipun demikian, di balik kekacauan tersebut, terselip kisah heroik Brasil yang berhasil mempertahankan gelar juara dunia meskipun kehilangan pemain terbaiknya.

Brasil tiba di Cile dengan status juara bertahan dan menjadi favorit utama untuk merebut trofi Jules Rimet. Semua sorotan tertuju pada Pele yang saat itu baru berusia 21 tahun. Penampilan gemilangnya di Piala Dunia 1958 telah menempatkannya sebagai pemain terbaik dunia. Pada laga pembuka melawan Meksiko, Pele langsung menunjukkan tajinya dengan mencetak gol indah setelah melewati beberapa pemain lawan, membawa Brasil menang 2-0. Namun, petaka datang pada pertandingan kedua melawan Cekoslowakia. Saat melepaskan tendangan jarak jauh, Pele mengalami cedera otot paha yang cukup serius. Karena aturan pergantian pemain belum berlaku saat itu, ia terpaksa bertahan di lapangan sebelum akhirnya dipastikan tidak bisa melanjutkan turnamen. Banyak pihak menilai peluang Brasil untuk mempertahankan gelar langsung menurun drastis.

Ketika Pele harus menepi, Brasil menemukan sosok penyelamat dalam diri Garrincha. Pemain sayap berjuluk "Burung Kecil" itu tampil luar biasa sepanjang fase gugur. Menariknya, Garrincha lahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna kaki kirinya lebih pendek sekitar enam sentimeter dan bentuk kedua kakinya tidak simetris. Namun, keterbatasan itu tidak menghalanginya untuk menjadi mimpi buruk bagi para bek lawan. Pada babak perempat final, ia mencetak dua gol yang membantu Brasil mengalahkan Inggris 3-1. Penampilan magisnya berlanjut di semifinal ketika kembali mencetak dua gol untuk membawa Brasil menaklukkan tuan rumah Cile dengan skor 4-2. Dribel-dribelnya yang memukau menjadikannya pemain paling dominan di turnamen tersebut.

Sementara itu, Piala Dunia 1962 mencapai puncak kontroversi pada 2 Juni saat Cile menghadapi Italia di fase grup. Laga yang kemudian dikenal sebagai "Battle of Santiago" itu hingga kini masih dianggap sebagai salah satu pertandingan paling kasar dalam sejarah sepak bola. Ketegangan sudah muncul sebelum pertandingan dimulai setelah sejumlah media Italia melontarkan kritik keras terhadap kondisi Cile yang saat itu masih berupaya bangkit dari bencana gempa besar. Akibatnya, suasana pertandingan langsung memanas sejak menit awal. Giorgio Ferrini mendapat kartu merah dan harus dikeluarkan polisi dari lapangan karena menolak keluar. Leonel Sanchez memukul Mario David hingga terjatuh, tetapi lolos dari hukuman. Mario David kemudian membalas dengan menendang kepala Sanchez dan langsung diusir wasit. Kapten Italia, Humberto Maschio, mengalami cedera rahang setelah benturan keras. Pertandingan berlangsung kacau dan berkali-kali dihentikan karena keributan antarpemain. Cile akhirnya menang 2-0, tetapi laga tersebut lebih diingat sebagai simbol betapa brutalnya sepak bola pada era itu.

Di balik kekacauan itu, lahirlah ide yang mengubah wajah sepak bola selamanya. Wasit asal Inggris, Ken Aston, yang memimpin pertandingan tersebut menyadari sulitnya berkomunikasi dengan pemain dari berbagai negara saat memberikan sanksi. Pengalaman itu menginspirasinya untuk menciptakan sistem kartu kuning dan kartu merah sebagai tanda visual yang mudah dipahami semua pemain. Sistem tersebut kemudian resmi digunakan FIFA pada Piala Dunia 1970 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola hingga saat ini.

Di partai final yang berlangsung di Estadio Nacional, Santiago, Brasil kembali bertemu Cekoslowakia. Selecao sempat tertinggal lebih dahulu melalui gol Josef Masopust pada menit ke-15, namun mental juara kembali berbicara. Amarildo berhasil menyamakan kedudukan hanya dua menit kemudian, sebelum Zito dan Vava menambah dua gol pada babak kedua. Brasil pun menang 3-1 dan sukses mempertahankan gelar juara dunia. Keberhasilan itu menjadikan Brasil sebagai negara kedua yang mampu meraih gelar Piala Dunia secara beruntun setelah Italia pada 1934 dan 1938. Lebih dari itu, kemenangan tersebut membuktikan bahwa kekuatan Brasil tidak hanya bergantung pada Pele, tetapi juga pada kedalaman skuad yang luar biasa.

Beberapa fakta menarik mewarnai Piala Dunia 1962. Turnamen yang digelar di Cile ini dimenangkan oleh Brasil, dengan Cekoslowakia sebagai runner-up. Gelar top skor dibagi oleh enam pemain yang masing-masing mencetak empat gol, termasuk Garrincha dan Vava. Sebuah fakta unik juga tercatat: Marcos Coll mencetak satu-satunya gol langsung dari tendangan sudut dalam sejarah Piala Dunia saat membobol gawang legenda Lev Yashin. Namun, warisan terbesar dari edisi ini tetaplah brutalnya "Battle of Santiago" yang menjadi inspirasi lahirnya sistem kartu kuning dan merah yang digunakan hingga sekarang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar