Pria 63 tahun itu mengaku terong yang dipanennya saat ini seluas 2,5 hektare.
Untuk menanam terong di lahan seluas itu, butuh biaya besar. Termasuk biaya perawatannya.
“Modal tanam terong ini Rp. 15 juta. Kalau terong ini anjlok jelas modal sulit kembali. Kalau dihitung, dalam satu hektare bisa panen tiga ton, berarti hasil Rp 3 juta, kalau dua hektare hasil Rp. 6 juta. Berarti kalau 2,5 hektare hasil jualnya ini hanya dapat Rp. 7 jutaan. Kan sudah jauh dengan modal, ini masih hitungan kotor bukan bersih,” ujar Sutipyo.
Selanjutnya, Sutipyo bakal melihat perkembangan harga.
Semisal harga naik, dia akan memelihara terong dan merawatnya untuk lebih bagus lagi.
Namun, jika harganya terus dari Rp. 1000 dipastikan tanaman akan dirusak dan diganti tanaman bawang merah.
“Sebenarnya panen terong bisa berulang kali hingga 10 kali panen. Tapi kalau hargnya tetap Rp 1 ribu sulit yang mau untung,” tegas Sutipyo.
Sutipyo menjelaskan, harga terong menjadi murah akibat panen raya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: radarsitubondo.jawapos.com
Artikel Terkait
Pemulihan SPBU Aceh Tembus 97 Persen Pascabencana
Di Balik Kenaikan IHSG, Sepuluh Saham Ini Justru Terjun Bebas
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026
Stok Beras dan Minyak Goreng di Aceh Aman Jelang Ramadan, Bulog Pastikan Tak Ada Kelangkaan