Harga Nikel Global 2025 Turun, Industri Nikel Indonesia Justru Tumbuh Berkat Hilirisasi

- Kamis, 06 November 2025 | 20:40 WIB
Harga Nikel Global 2025 Turun, Industri Nikel Indonesia Justru Tumbuh Berkat Hilirisasi
Harga Nikel Global 2025 Turun, Industri Nikel Indonesia Justru Tumbuh Berkat Hilirisasi

Harga Nikel Global 2025 Tertekan, Tapi Industri Nikel Indonesia Justru Makin Kuat

Harga nikel global pada 2025 mengalami tekanan. Penyebabnya adalah perlambatan ekonomi Tiongkok dan meningkatnya pasokan dari negara-negara baru seperti Indonesia dan Filipina. Di bursa London Metal Exchange (LME), harga nikel sempat turun ke kisaran USD 16.000 per ton, jauh dari level tertingginya di atas USD 20.000 per ton pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini menekan margin produsen nikel di seluruh dunia. Tekanan ini diperparah oleh melemahnya permintaan dari sektor baja tahan karat di Tiongkok dan penyesuaian dalam rantai pasok baterai untuk kendaraan listrik.

Ketahanan Industri Nikel Indonesia di Tengah Tantangan Global

Berbeda dengan tren global, industri nikel Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Ketahanan ini didorong oleh percepatan program hilirisasi dan konsolidasi produksi di bawah MIND ID Group. Dua perusahaan tambang besar milik negara, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), mencatatkan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.

Secara kolektif, produksi nikel dari ANTAM dan Vale hingga akhir September 2025 mencapai total 68.755 ton. Rinciannya adalah 17.520 ton nikel dalam feronikel (TNi) dari ANTAM dan 51.235 ton nikel matte dari Vale Indonesia.

Analisis Ahli: Hilirisasi Kunci Sukses Nikel Indonesia

Menurut M. Kholid Syeirozi, Direktur Eksekutif Center of Energy Policy (CEP), capaian ini adalah hasil dari kombinasi efisiensi operasi perusahaan dan dukungan kebijakan hilirisasi dari pemerintah.

"Kinerja tambang, termasuk ANTAM, tumbuh positif karena gabungan perbaikan operasi perusahaan dan ekosistem hilirisasi. Ada kenaikan penjualan berkat meningkatnya permintaan smelter setelah larangan ekspor ore," ujar Kholid.

Meski begitu, Kholid mengingatkan bahwa industri nikel masih menghadapi risiko ketidakpastian global akibat kelebihan pasokan yang menekan harga. Selain itu, popularitas baterai LFP (lithium iron phosphate) dalam industri kendaraan listrik berpotensi menggerus pasar baterai berbasis nikel (NCM).

Oleh karena itu, dia menekankan bahwa arah hilirisasi perlu ditingkatkan menuju industrialisasi berbasis nikel. Pengembangan produk turunan seperti stainless steel dan bahan kimia industri diperlukan agar daya saing Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar baterai.

Kinerja Keuangan ANTAM dan Proyeksi Masa Depan

Kinerja positif ANTAM sangat terlihat dari laporan keuangannya. Pada kuartal III-2025, perusahaan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 72,03 triliun, tumbuh 67 persen secara tahunan. Laba bersihnya melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp 6,61 triliun.

Pertumbuhan ini juga disokong oleh kontribusi dari entitas asosiasi seperti PT Halmahera Persada Lygend (HPL) yang fokus pada hilirisasi nikel sulfat untuk bahan baku baterai kendaraan listrik. Proyek Smelter Feronikel Halmahera Timur (P3FH) yang ditargetkan selesai pada 2026 akan menambah kapasitas produksi sebesar 13.500 ton nikel per tahun.

Strategi Hilirisasi PT Vale Indonesia (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan pendapatan yang stabil sebesar US$705,4 juta hingga September 2025. Laba bersihnya naik menjadi USD 52,45 juta, dengan produksi nikel matte mencapai 51.235 ton.

PTVI kini memperkuat langkah hilirisasi melalui tiga proyek strategis utama dalam kerangka Indonesia Growth Project (IGP):

  • IGP Pomalaa: Berkolaborasi dengan Huayou dan Ford Motor Company untuk memproduksi 120 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk MHP untuk baterai EV.
  • IGP Bahodopi: Fokus pada produksi nickel pig iron (NPI) sekitar 73 ribu ton per tahun untuk industri baja tahan karat.
  • IGP Sorowako: Mengembangkan fasilitas pengolahan dengan teknologi HPAL untuk meningkatkan efisiensi produksi nikel matte.

Ketiga proyek ini ditargetkan beroperasi komersial pada periode 2026–2028.

Peran Strategis MIND ID dalam Pasar Nikel

Dengan rantai bisnis terpadu dari hulu ke hilir, MIND ID memainkan peran strategis dalam mendukung kebijakan hilirisasi nasional dan transisi energi.

"MIND ID punya peran strategis sebagai agregator yang menyeimbangkan rantai pasok dan permintaan untuk menjaga siklus pasar. Holding tambang ini harus mampu mengantisipasi dua penyakit mekanisme pasar, baik oversupply maupun less demand, misalnya lewat kebijakan kuota produksi dan diversifikasi produk smelter," pungkas Kholid.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar