Ketegangan di Timur Tengah yang kembali memanas rupanya langsung terasa di pasar keuangan global. Dolar AS, misalnya, berbalik menguat di awal pekan ini. Sentimen investor berubah drastis setelah ancaman saling serang antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengemuka, meredam selera risiko yang sebelumnya ada.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan menyerang infrastruktur listrik Iran. Ancaman itu tak dibiarkan begitu saja.
Teheran dengan cepat membalas, menyatakan kesiapannya untuk melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas-fasilitas vital di kawasan itu. Situasi yang memang sudah panas pun jadi semakin berisiko.
Akibatnya, indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terdongkrak naik 0,08 persen ke level 99,62. Yang menarik, penguatan ini terjadi setelah dolar sempat mengalami pelemahan mingguan pertamanya sejak konflik berkecamuk. Tampaknya pasar sedang menyesuaikan diri dengan realitas baru yang mencemaskan.
Di sisi lain, mata uang utama lainnya justru terperosok. Euro melemah 0,16 persen ke USD1,1552. Yen Jepang pun tak berkutik, melemah 0,14 persen ke 159,45 per dolar. Poundsterling Inggris juga ikut turun, meski tipis, 0,06 persen ke USD1,3331.
Pergerakan serupa terlihat jelas di kawasan Asia. Dolar Australia sering jadi barometer sentimen global anjlok 0,43 persen ke USD0,6993. Dolar Selandia Baru juga ikut terimbas, turun 0,26 persen ke USD0,5819. Semuanya berbalik arah mengikuti arus safe-haven ke dolar AS.
Namun begitu, konflik ini bukan satu-satunya faktor yang bikin pasar deg-degan. Lonjakan harga energi turut menyulut kekhawatiran inflasi yang lebih dalam. Ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral pun berubah. Federal Reserve sekarang diperkirakan bakal menahan diri untuk memotong suku bunga dalam waktu dekat, berbanding terbalik dengan prediksi banyak pihak sebelumnya.
Bahkan, sejumlah bank sentral besar mulai bersikap lebih hati-hati. European Central Bank dan Bank of England mempertahankan suku bunga mereka, tapi sinyal kewaspadaan terhadap inflasi semakin kencang. Yang mengejutkan, Bank of Japan pun disebut-sebut membuka peluang untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Perubahan sikap ini jelas sesuatu yang jarang terjadi.
Gambaran kekhawatiran itu juga tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury untuk surat utang tenor 10 tahun melonjak mendekati level tertingginya dalam delapan bulan terakhir, berada di kisaran 4,415 persen. Angka itu seperti teriakan pasar tentang ketakutan akan inflasi yang berkepanjangan.
Jadi, awal pekan ini ditandai oleh dua hal: ketegangan geopolitik yang memicu pelarian ke aset aman, dan bayang-bayang inflasi yang mengubah perkiraan soal arah suku bunga global. Kombinasi yang cukup berat untuk dihadapi pasar.
Artikel Terkait
Hanya Dua dari Enam Emiten Grup Prajogo Pangestu Penuhi Aturan Free Float 15 Persen
BEI: 560 Emiten Penuhi Aturan Free Float 15%, Masa Transisi Diberikan hingga 2029
MNC Sekuritas Gelar Kuliah Umum di Universitas MH Thamrin, Dorong Literasi Pasar Modal Berbasis Pemahaman Geopolitik Global
Menkeu Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh Mendekati 6 Persen hingga Akhir 2026