Di ruang sidang Pengadilan Federal San Francisco, Jumat lalu, juri menyampaikan keputusan yang cukup mengejutkan. Elon Musk, orang terkaya di dunia itu, dinyatakan bertanggung jawab atas tuduhan menipu para pemegang saham Twitter. Intinya, Musk dianggap sengaja menekan harga saham lewat pernyataannya di media sosial. Tujuannya? Agar bisa menawar ulang atau malah membatalkan rencana akuisisi senilai 44 miliar dolar AS yang sudah disepakati di tahun 2022.
Kasusnya berpusat pada cuitan-cuitan Musk soal akun bot atau spam di platform itu. Menurut para penggugat, pernyataannya itu menyesatkan dan akhirnya bikin harga saham Twitter anjlok.
Nah, soal berapa ganti rugi yang harus dibayar, itu belum ditetapkan. Tapi pengacara para pemegang saham, Francis Bottini, sudah punya perkiraan. Angkanya tak main-main: sekitar 2,5 miliar dolar AS.
“Status Musk sebagai orang terkaya di dunia bukanlah kebal hukum,” tegas Bottini dalam pernyataannya.
“Jika Anda mampu menggerakkan pasar melalui cuitan, maka Anda juga bertanggung jawab atas kerugian yang dialami investor.”
Di sisi lain, tim pengacara Musk langsung bersikap ofensif. Mereka menyebut putusan ini cuma “hambatan kecil” dan sudah menyiapkan banding. Rupanya, ini bukan pertama kalinya Musk berurusan dengan gugatan semacam ini. Dia lebih sering memilih berperang di pengadilan ketimbang berdamai di luar. Contohnya kasus serupa di Tesla tahun 2023 lalu, yang justru dimenangkannya. Begitu juga dengan gugatan soal paket kompensasi raksasa di Delaware.
Fokus gugatan kali ini adalah tiga pernyataan Musk setelah dia setuju beli Twitter pada April 2022. Dia terus mempersoalkan apakah platform itu kebanyakan bot. Juri akhirnya memutuskan Musk bertanggung jawab atas dua dari tiga pernyataan itu. Salah satunya ketika dia bilang proses akuisisi “ditunda sementara” sampai ada konfirmasi soal persentase bot. Yang satunya lagi, dia menyebut angka bot bisa “jauh lebih tinggi” dari 20%.
Meski begitu, ada sedikit kemenangan untuk Musk. Juri menyatakan para pemegang saham gagal membuktikan bahwa dia menjalankan skema penipuan yang lebih terstruktur terhadap mereka.
“Kekhawatiran klien saya soal bot itu nyata dan serius,” bela pengacara Musk, Michael Lifrak. “Pernyataannya sama sekali tidak bermaksud menipu.”
Gugatan ini melibatkan investor yang merasa terpaksa jual saham Twitter di harga murah antara Mei hingga Oktober 2022, gara-gara pernyataan Musk.
Dan rupanya, masalah hukum Musk belum berakhir di sini. Dia masih harus berunding dengan SEC, badan pengawas pasar modal AS, terkait tuduhan lain. SEC menuduhnya terlambat mengungkap pembelian saham Twitter awal tahun 2022, sehingga bisa membeli lebih banyak saham dengan harga murah sebelum publik tahu.
Di tengah semua keributan hukum ini, bisnis Musk di tempat lain justru melesat. SpaceX, perusahaan roketnya, baru-baru ini mengakuisisi xAI, perusahaan kecerdasan buatannya sendiri yang menaungi platform X (dulu Twitter). Transaksi itu disebut-sebut menciptakan perusahaan privat paling bernilai di dunia, dengan valuasi mencapai 1,25 triliun dolar AS. Sungguh kontras dengan suasana di pengadilan San Francisco.
Pada akhirnya, seperti yang kita tahu, akuisisi Twitter itu tetap berjalan. Oktober 2022, Musk resmi mengambil alih dan mengganti nama platform legendaris itu menjadi X. Tapi dampak dari pernyataan-pernyataannya di masa proses akuisisi, ternyata masih terus berlanjut hingga ke meja hijau.
Artikel Terkait
Beckham Putra Percaya Diri Hadapi Persija, Kemenangan atas PSIM Jadi Modal Berharga Persib
15 Juta Penduduk Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank, LPS Genjot Literasi Keuangan
Setelah 20 Kali Gagal, Perempuan Pematangsiantar Akhirnya Raih Beasiswa LPDP ke King’s College London
JK Marah Besar Dituduh Nistakan Agama Kristen, 40 Ormas Laporkan Ade Armando Cs ke Bareskrim