IDXChannel – Ada kabar baru dari dunia kesehatan dalam negeri. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), perusahaan di balik Mayapada Healthcare, baru saja meluncurkan teknologi mutakhir di Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS). Teknologi ini namanya Kedokteran Nuklir dan Teranostik. Fokusnya jelas: mendongkrak standar perawatan kanker di Oncology Center mereka.
Menurut President Director & CEO Mayapada Healthcare, Navin Sonthalia, alat ini bukan main-main. Teknologi diagnostik yang dimaksud adalah pencitraan canggih yang bisa melihat penyakit sampai ke tingkat seluler dan molekuler. Di Indonesia, masih sedikit rumah sakit yang punya kemampuan seperti ini.
“Ini langkah strategis,” ujar Navin dalam pernyataan resmi, Minggu (26/4/2026). “Kami ingin memperkuat ekosistem layanan kanker yang terintegrasi di seluruh jaringan Mayapada Hospital. Harapannya, pasien bisa menjalani diagnosis sampai terapi dalam satu alur yang lebih cepat dan presisi.”
Nah, teknologi yang dimaksud adalah PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan buatan Siemens Healthineers. Keunggulannya? Lumayan banyak. Mulai dari kemampuan memindai seluruh tubuh dengan hasil gambar yang lebih tajam, paparan radiasi yang lebih rendah, waktu pemeriksaan yang lebih singkat, sampai alur perawatan yang lebih terarah. Ujung-ujungnya, pasien nggak perlu bolak-balik pemeriksaan ulang.
“Kami pastikan pasien dapat diagnosis akurat, terapi tepat, dan harapan hidup lebih baik tanpa harus ke luar negeri,” tegas Navin lagi. “Apalagi dengan pembangunan Tower 3 MHJS, posisi kami sebagai pusat layanan kanker advanced makin kuat.”
Di sisi lain, rencana ekspansi juga sudah disiapkan. Tahun depan, PET-CT dan SPECT-CT bakal hadir di Mayapada Hospital Tangerang (MHTG) dan Surabaya (MHSB). Sementara untuk Bandung (MHBD), setidaknya PET-CT dulu yang akan tersedia.
Navin juga mengungkapkan, penguatan layanan ini nggak berjalan sendiri. Ada kolaborasi klinis dengan mitra kelas dunia macam Apollo Hospitals India dan National University Hospital (NUH) Singapura. Belum lagi standar internasional Joint Commission International (JCI) yang sudah diraih MHJS. Semuanya fokus pada keselamatan pasien dan akurasi di setiap tahap perawatan.
Hospital Director MHJS, dr Fiktorius Kuludong, menambahkan bahwa pihaknya terus meningkatkan pengalaman pasien secara menyeluruh. “Kami ingin jadi pusat layanan kanker bagi seluruh unit Mayapada Hospital dengan pendekatan Comprehensive Cancer Care,” ujarnya.
PET-CT dan SPECT-CT ini ditempatkan di Nuclear Medicine & Molecular Theranostic Center. Fungsinya ganda: mendeteksi penyakit di level sel dan molekuler, sekaligus memberikan terapi yang tepat sasaran ke sel kanker. Dampaknya pada jaringan sehat pun diminimalkan.
“Proses terapi nuklir dilakukan di Radioactive Isolation Room (RIR). Sistem keamanan radiasi dan jendela alami kami siapkan, biar pasien merasa aman dan nyaman,” jelas dr Fiktorius.
Sementara itu, President Director Siemens Healthineers Indonesia, Alfred Fahringer, bilang bahwa beban kanker di Indonesia terus meningkat. Karena itu, kemitraan jangka panjang ini penting. “Kami ingin memperluas akses ke diagnostik kanker yang presisi, meningkatkan efisiensi klinis, dan memperkuat keunggulan klinis,” katanya.
“Kami apresiasi komitmen Mayapada Healthcare dalam menjaga standar mutu internasional secara konsisten, termasuk di layanan onkologi terintegrasi ini,” sambung Alfred.
Biar implementasinya optimal, Mayapada Healthcare dan Siemens Healthineers juga nggak lupa urusan transfer knowledge. Tenaga medis diperkuat kompetensinya, mulai dari instalasi sampai optimalisasi penggunaan teknologi dalam praktik klinis sehari-hari.
Pada akhirnya, dengan teknologi canggih dan tim multidisiplin, Oncology Center Mayapada Hospital makin mantap sebagai layanan kanker terintegrasi. Diagnosis lebih pasti, terapi lebih presisi, dan pengalaman perawatan yang lebih nyaman semua bisa didapat pasien di Indonesia.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta, IHSG Justru Terkoreksi 6,6% dalam Sepekan
BEI Luncurkan Kampanye ‘Aku Net-Zero Hero’ di Hari Bumi, Dorong Partisipasi Publik dalam Perdagangan Karbon
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas
Bapanas Izinkan Penggunaan Kemasan Beras SPHP Tahun 2023–2025 Akibat Kelangkaan Bahan Baku Plastik