Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp17.944 Usai BI Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Kembali Memanas

- Rabu, 10 Juni 2026 | 16:15 WIB
Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp17.944 Usai BI Naikkan Suku Bunga, Konflik Iran-AS Kembali Memanas

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (10/6/2026). Mata uang Garuda tercatat naik 114 poin atau sekitar 0,63 persen ke level Rp17.944 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan ini didorong oleh respons positif pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Langkah tersebut diambil untuk menstabilkan rupiah yang sebelumnya berulang kali menyentuh rekor terendah.

Kenaikan suku bunga acuan juga dinilai membantu pemerintah dalam pelaksanaan lelang obligasi bertenor 10 tahun. Dengan tingkat bunga obligasi mencapai 7,4 persen, diharapkan investor asing maupun domestik kembali tertarik menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).

“Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi.

Sementara itu, dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik kembali memanas. Washington melancarkan serangan baru terhadap target Iran pada Selasa setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Insiden ini kembali memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.

Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai respons atas serangan tersebut. Eskalasi terbaru ini mengancam gagalnya kemajuan sementara menuju de-eskalasi setelah Iran dan Israel sepakat untuk menghentikan serangan awal pekan ini atas seruan dari mantan Presiden AS, Donald Trump.

Para pelaku pasar sebelumnya menafsirkan jeda dalam permusuhan sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi diplomatik, yang memicu aksi jual minyak mentah. Namun, perhatian kini tetap terfokus pada Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright menyebut lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Teluk telah membaik dalam beberapa pekan terakhir, ia memperingatkan bahwa aliran energi masih di bawah normal. Pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Harga minyak naik sekitar 1 persen pada Rabu, menambah kekhawatiran bahwa biaya bahan bakar yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve. Prospek inflasi yang terus-menerus telah mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga AS. Lebih dari 70 persen pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada Desember.

Imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, sementara dolar AS masih kuat menjelang rilis data inflasi. Investor mengamati dengan saksama data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei, yang akan menjadi angka tertinggi sejak April 2023 dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.950 per dolar AS.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar