Iran dan Rusia: Solidaritas atau Sandiwara di Balik Uranium yang Hilang?

- Rabu, 10 Desember 2025 | 14:10 WIB
Iran dan Rusia: Solidaritas atau Sandiwara di Balik Uranium yang Hilang?

Pada 20 November, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kembali mengeluarkan resolusi. Isinya mendesak Iran untuk bekerja sama secara "penuh dan segera". Salah satu poin yang terus jadi teka-teki adalah nasib sekitar 400 kilogram uranium yang sudah diperkaya hingga 60 persen. Hingga detik ini, keberadaannya masih diselimuti kabut rahasia.

Ketegangan sebenarnya sudah berlarut-larut. Pemicunya? Perang dua belas hari antara Israel/Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu. Sejak peristiwa itu, Teheran menutup akses para inspektur IAEA ke fasilitas-fasilitas yang jadi sasaran serangan udara. Situasinya pun mandek.

Di tengah kebuntuan itu, ada yang menarik. Moskow justru mempererat kolaborasi nuklir dengan Teheran. "Kerja sama kami telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," ucap Duta Besar Rusia untuk Iran, Alexei Dedow, pertengahan November lalu.

Dalam pernyataannya kepada kantor berita Iran ISNA, Dedow menegaskan bahwa Rusia akan terus mendukung Iran mencari solusi atas persoalan program nuklirnya.

Nyatanya, kerja sama ini bukan wacana baru. Sudah direalisasikan sejak akhir September lewat penandatanganan nota kesepahaman untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir. Tak cuma itu, badan energi atom Rusia, Rosatom, juga mengikat kontrak raksasa senilai 25 miliar dolar Amerika dengan perusahaan Iran, Iran Hormoz. Tujuannya, membangun empat pembangkit nuklir baru di Iran.

"Rusia adalah mitra internasional terpenting bagi program nuklir Iran," kata David Jalilvand, pakar Timur Tengah yang memimpin konsultan riset Orient Matters di Berlin.

Namun begitu, dia punya catatan penting. "Untuk pengembangan lebih lanjut program nuklir Iran, Moskow sejauh ini lebih banyak berjanji ketimbang mewujudkan."

Jalilvand mengingatkan, sejak 2016 pembangunan reaktor kedua di Bushehr diumumkan, tapi proyeknya tak kunjung terealisasi. Dia meragukan nota kesepahaman terbaru ini akan cepat terwujud. Alasannya sederhana: "Rusia nyaris tak punya kepentingan memperkuat posisi strategis Iran di Timur Tengah, terutama karena relasinya dengan Israel, negara-negara Teluk, dan Turki."

Dukungan yang Minim dari Moskow

Fakta di lapangan memang berbicara. Dalam perang dua belas hari terakhir, Iran nyaris tak mendapat sokongan berarti dari sekutunya itu. Padahal, awal tahun ini kedua negara sudah meneken perjanjian kemitraan strategis yang mencakup kerja sama militer dan ekonomi selama dua dekade.

Iran sebelumnya aktif memasok drone dan senjata untuk perang Rusia di Ukraina. Langkah itu membuatnya jadi salah satu pendukung utama invasi Rusia, sekaligus merusak hubungan dengan Eropa. Sebagai imbalan, Teheran memesan pesawat tempur Sukhoi Su-35. Tapi hingga konflik dengan Israel pecah, pesawat-pesawat itu belum juga tiba. Perang tersebut justru menyingkap betapa rapuhnya pertahanan udara Iran.

"Perjanjian strategis dengan Rusia terbukti cuma sandiwara," ujar Mohammad Sadr, anggota Dewan Penjaga Kepentingan Sistem.

Dalam pernyataan berbahasa Persia, Sadr dengan tegas menyebut Rusia tidak bisa dipercaya. "Mengira Moskow akan membela kita atau berhadapan dengan Amerika Serikat adalah absurditas." Dia bahkan menuding Rusia membocorkan informasi tentang pusat-pusat pertahanan Iran kepada Israel.

Suara skeptis serupa terdengar di masyarakat. Seorang profesor universitas di Teheran yang enggan disebutkan namanya berbagi pandangannya. "Orang-orang tahu Rusia akan meninggalkan Iran di saat-saat krusial. Banyak yang percaya pemerintah hanya berpaut pada Moskow demi mempertahankan kekuasaan, bukan demi kepentingan rakyat."

Kalkulasi Politik yang Rumit

Ironisnya, meski mendapat pengalaman pahit, kalangan konservatif di Iran justru mendorong agar kerja sama dengan Rusia diperdalam. "Pengaruh Rusia di kantung-kantung kekuasaan Iran tak terbantahkan," kata Afshar Soleimani, mantan Duta Besar Iran untuk Azerbaijan.

Menurutnya, faksi konservatif aktif mendukung Rusia, mendorong ekspor drone, dan terus menghembuskan ketegangan dengan Amerika Serikat. "Selama arus politik ini berkuasa, tak banyak yang akan berubah dan rakyatlah yang menanggung dampaknya."

Klaim yang lebih mengejutkan datang dari Kamran Ghazanfari, anggota konservatif Komisi Dalam Negeri parlemen Iran. Dia mengatakan mantan Presiden Rusia Dmitri Medvedev pernah menyatakan kesiapan Moskow untuk memasok senjata nuklir kepada Iran. Tapi klaim ini diragukan banyak ahli.

"Itu sangat tidak mungkin," tegas David Jalilvand. "Rusia tidak berkepentingan menambah jumlah negara pemilik senjata nuklir di Timur Tengah yang sudah rapuh."

Dia menilai, Moskow mungkin saja memasok teknologi yang secara teori bisa dimanfaatkan untuk program militer. Namun dukungan langsung untuk pembuatan bom atom? Nyaris mustahil.

Bagi Rusia, "kartu Iran" lebih sering dipakai sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Meski Iran mengklaim telah menghentikan sementara pengayaan uranium, belum jelas apakah Moskow mampu atau mau mendorong Teheran mengurangi cadangan uraniumnya.

"Rusia berkali-kali memosisikan diri sebagai mediator," kata Jalilvand. "Namun itu bukan karena ingin menyelesaikan konflik nuklir. Di tengah perang Ukraina, Moskow lebih ingin tampil sebagai mitra 'konstruktif' di mata Washington, sambil sekaligus menebar jarak antara Amerika Serikat dan Eropa."

Kalkulasi politik, sekali lagi, berbicara lebih lantang daripada janji solidaritas.


Kontributor: Danyal Babayani

Diadaptasi dari bahasa Jerman oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar