Di Tengah Reruntuhan, Terdengar Bisikan: Abak Memanggil Mak

- Minggu, 07 Desember 2025 | 12:10 WIB
Di Tengah Reruntuhan, Terdengar Bisikan: Abak Memanggil Mak

Pukul empat pagi yang gelap itu, rumah Yusmidar di Padang Lahew, Pasaman Barat, tiba-tiba runtuh diterjang longsor. Suara gemuruh, lalu gelap. Lumpur dan air memenuhi ruangan hingga setinggi leher. Dalam kepanikan, tangannya meraba-raba, berusaha menemukan sesuatu untuk dipegang. “Yang teringat hanya anak-anak saya,” kenangnya.

Perempuan 50 tahun itu tak berhenti bersyukur. Meski rumahnya luluh lantak tak bersisa, dia, keempat anaknya, dan sang ayah berhasil selamat dari maut.

“Allah maha besar,” ucap Yusmidar di sebuah mushala yang kini jadi tempat mengungsi sementara. Raut sedih masih jelas terpancar, apalagi baru lima bulan lalu ia ditinggal sang suami.

Malam sebelum longsor, hujan deras tak henti-hentinya. Sekitar pukul tiga, anak bungsunya, Asyifa Nur Rahmadhani yang berusia delapan tahun, tiba-tiba gelisah dan tak mau tidur.

“Ada apa nak?” tanya Yusmidar.

Si kecil yang biasa dipanggil Syifa itu menjawab dengan polos, “Kenapa abak (ayah yang telah meninggal dunia) memanggil mak (ibu)?”

“Perasaan Syifa saja, mana mungkin Abak memanggil,” jawab Yusmidar kala itu, mencoba menenangkan. Dia pun mengajak anaknya rebahan lagi.

Tak lama kemudian, teriakan minta tolong Syifa memecah kesunyian. Disusul suara gemuruh dahsyat yang menggetarkan bumi. Rumah mereka pun ambruk, digenangi lumpur hitam pekat.

Beruntung, di tengah kegelapan dan kepanikan, Yusmidar berhasil meraih sebatang kayu dan berpegangan kuat. Sambil berteriak memanggil nama anak-anaknya, ia berusaha meraba dalam lumpur. Suara jawaban tak kunjung datang. “Yang terdengar hanya suara lumpur yang mengalir deras,” katanya. Saat itu, hatinya sudah pasrah. Ia mengira anak-anak dan ayahnya telah hanyut.

Namun begitu, dari kejauhan, sebuah suara samar menyapa. “Mak, ini Azis.”

Itu adalah anaknya yang berusia 15 tahun. Setelah berhasil menarik Azis, dengan sisa tenaga Yusmidar terus memanggil-manggil dengan harapan tipis. Lalu, seperti jawaban dari langit, suara sayup Asyifa terdengar meminta tolong. Mereka pun berhasil diselamatkan.

Warga sekitar yang berdatangan kemudian membantu mencari dua anaknya lagi, Akbar (17) dan Anton (22). Alhamdulillah, semua ditemukan dalam keadaan selamat. “Awalnya saya sudah pasrah, namun Allah masih sayang pada kami,” ujarnya lirih.

Pencarian kemudian berlanjut untuk sang ayah, Amirudin (75), yang dalam kondisi sakit stroke. Warga menemukannya tertimbun lumpur, dan berhasil menariknya keluar. Yusmidar sendiri tak menyangka musibah ini akan menimpa keluarganya, mengingat letak rumahnya justru lebih tinggi dari tetangga yang lain.

“Saya memiliki enam orang anak. Dua orang anak saya tinggal di rumah eteknya (tante), sedangkan empat lagi tinggal bersama saya. Alhamdulillah bisa selamat,” tuturnya, mengakhiri cerita.

Sayangnya, tidak semua berakhir dengan keselamatan. Bencana longsor di Tinggam, Sinuruik, itu merenggut nyawa dan masih menyisakan duka yang dalam.

Dari lima orang yang dilaporkan tertimbun, dua orang telah ditemukan meninggal: Yelma Yunita (41) dan Raffael Gusti Pratama (7) yang masih bocah. Sementara tiga korban lainnya Dian Fernanda (24), Amrizal (38), dan Nurhayati (35) masih dalam pencarian tim gabungan hingga hari kesepuluh. Harapan untuk menemukan mereka hidup-hidup kian menipis.

Data terakhir dari posko bencana cukup memilinkan: empat orang meninggal dunia, tiga hilang, lima luka-luka, dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Kerusakan infrastrukturnya pun parah. Puluhan rumah hancur atau rusak berat, ribuan lainnya terendam banjir. Tak hanya permukiman, sekolah, tempat ibadah, jembatan, jalan, hingga lahan pertanian seluas ratusan hektare ikut menjadi korban. Alam memang sedang murka.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler