JAKARTA – Harga plastik melonjak, distribusi beras SPHP pun cari akal. Badan Pangan Nasional (Bapanas) akhirnya ambil keputusan yang agak tak biasa: mengizinkan penggunaan kemasan lama, dari tahun 2023 sampai 2025. Alasannya? Bahan baku plastik lagi langka dan mahal, bikin proses pengadaan kemasan baru jadi tersendat.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, bilang kalau fluktuasi harga dan kelangkaan ini sudah menghambat lelang kemasan di Perum Bulog. “Mencermati kondisi saat ini, terutama terkait kelangkaan bahan baku plastik untuk kemasan, perlu membuka ruang untuk fleksibilitas terhadap penggunaan kemasan lama beras SPHP,” ujarnya di Jakarta, Minggu (26/4/2026). Menurut dia, langkah ini penting biar distribusi beras tetap jalan.
Tapi, jangan keburu senang dulu. Bapanas tetap kasih syarat. Kemasan lama itu boleh dipakai, asal informasinya disesuaikan dengan kondisi sekarang. Misalnya, Harga Eceran Tertinggi (HET) harus diperbarui, tanggal kedaluwarsa juga, plus keterangan lain yang relevan dengan isi produk.
“Penggunaan kemasan lama beras SPHP sebelum tahun 2026 diperbolehkan sepanjang informasi seperti kelas mutu beras, nama dagang, informasi HET, dan informasi penting lainnya yang diberikan pada kemasan sesuai dengan produk yang terdapat di dalam kemasan tersebut,” tambah Ketut.
Nah, biar nggak bikin bingung masyarakat, Bapanas mewajibkan penambahan stiker pembaruan pada kemasan. Stiker itu harus dipasang kuat, nggak gampang rusak atau luntur, dan ditaruh di tempat yang gampang kelihatan serta terbaca. Soalnya, misinformasi bisa terjadi kalau konsumen lihat kemasan lama tapi isinya beda.
Di sisi lain, Ketut juga mendorong Bulog buat ngasih tahu secara masif ke semua pihak yang terlibat. Soalnya, rencananya bakal ada 12,3 juta lembar kemasan stok 2023–2025 yang dipakai lagi tahun ini. Lumayan banyak, kan? Jadi semua mesti paham biar distribusi beras SPHP tetap lancar tanpa bikin gaduh di lapangan.
Artikel Terkait
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas
Pendapatan Berulang Dominan, Pondok Indah Group Diproyeksi Raup Laba Bersih Rp1,2 Triliun pada 2026
Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti dan Obligasinya Imbas Penundaan Kupon
ALII Raih Kredit Investasi Rp494,5 Miliar dari BRI untuk Ekspansi Armada