BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global

- Kamis, 09 April 2026 | 01:00 WIB
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global

Nah, kenaikan yield di pasar global itu bukan main-main efeknya. Tekanannya langsung menghantam pasar keuangan domestik dan tentu saja, nilai tukar Rupiah. Bank sentral pun mau tak mau harus lebih waspada.

Masalahnya nggak cuma di situ. Ada efek sistemik lain yang mengkhawatirkan: capital outflow. Dengan situasi yang mencekam, para investor cenderung bermain aman. Mereka menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, lalu memindahkannya ke aset-aset yang dianggap ‘safe haven’ atau lebih aman di pasar global.

Lanskap ekonomi dunia tahun 2026 juga diproyeksi makin suram. Pertumbuhan dikoreksi turun tipis jadi 3,1 persen. Di sisi lain, inflasi global justru diperkirakan melonjak dari 3,8 persen ke 4,1 persen. Kombinasi ini bikin bank-bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, kemungkinan besar akan berpikir dua kali untuk memangkas suku bunga mereka.

“Secara umum kebijakan monitor global itu akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya lebih lambat,” kata Perry merangkum situasi.

Jadi, intinya jelas. Di tengah badai ketidakpastian global ini, BI memilih untuk bersikap hati-hati. Stabilitas jadi kata kunci. Dan langkah ekspansif lewat penurunan suku bunga, untuk sementara, mungkin harus ditahan dulu.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar