Nah, kenaikan yield di pasar global itu bukan main-main efeknya. Tekanannya langsung menghantam pasar keuangan domestik dan tentu saja, nilai tukar Rupiah. Bank sentral pun mau tak mau harus lebih waspada.
Masalahnya nggak cuma di situ. Ada efek sistemik lain yang mengkhawatirkan: capital outflow. Dengan situasi yang mencekam, para investor cenderung bermain aman. Mereka menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia, lalu memindahkannya ke aset-aset yang dianggap ‘safe haven’ atau lebih aman di pasar global.
Lanskap ekonomi dunia tahun 2026 juga diproyeksi makin suram. Pertumbuhan dikoreksi turun tipis jadi 3,1 persen. Di sisi lain, inflasi global justru diperkirakan melonjak dari 3,8 persen ke 4,1 persen. Kombinasi ini bikin bank-bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, kemungkinan besar akan berpikir dua kali untuk memangkas suku bunga mereka.
“Secara umum kebijakan monitor global itu akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya lebih lambat,” kata Perry merangkum situasi.
Jadi, intinya jelas. Di tengah badai ketidakpastian global ini, BI memilih untuk bersikap hati-hati. Stabilitas jadi kata kunci. Dan langkah ekspansif lewat penurunan suku bunga, untuk sementara, mungkin harus ditahan dulu.
Artikel Terkait
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok
OJK Ingatkan Galbay dari Pinjol Rusak Masa Depan Keuangan