Meski begitu, dia ogah membeberkan angka pasti asumsi rupiah dalam simulasi terbaru itu. Alasannya klasik: menghindari spekulasi berlebihan di pasar yang justru bisa memperkeruh situasi.
"Tapi saya nggak bilang Rupiah-nya berapa.. Kalau bilang, 'oh kata Menteri Keuangan Rupiah ke sana', kamu udah beli Dolar?" candanya sekaligus serius. "Jadi kalau Rupiah kita serahkan ke Bank Sentral, ke ahlinya lah. Saya percaya dia bisa betulin."
Pernyataan itu menarik. Sampai berita ini diturunkan, Bank Indonesia sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi sejak rupiah menerobos ambang psikologis tersebut. Keheningan dari otoritas moneter ini turut menyumbang kecemasan di pasar.
Di sisi lain, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi melihat tren pelemahan ini masih punya peluang untuk berlanjut. Pantauannya menunjukkan rupiah bahkan sudah melampaui Rp17.106.
"Rupiah saat ini sudah tembus 17.106, ada kemungkinan besok 17.120 akan tembus," ungkap Ibrahim. Prediksinya suram, menandakan ujian bagi rupiah mungkin masih akan berlanjut di perdagangan hari berikutnya.
Jadi, sementara pemerintah berusaha tenang dengan skenario cadangannya, pasar dan pengamat masih menahan napas. Mereka menunggu langkah nyata, bukan sekadar simulasi, untuk membalikkan tren.
Artikel Terkait
Pendapatan SSIA Anjlok 30%, Rugi Bersih Rp89,4 Miliar di 2025
Sari Roti Bagikan Dividen Rp450 Miliar, Yield Capai 10,6%
Pemprov DKI Beri Potongan Pajak 20% untuk Sektor Kuliner dan Perhotelan
Black Diamond Resources (COAL) Merambah Bisnis Maritim dengan Bentuk Anak Usaha