Rupiah Tertekan ke Rp17.035, Dihajar Sentimen Hormuz dan Defisit APBN

- Senin, 06 April 2026 | 16:20 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.035, Dihajar Sentimen Hormuz dan Defisit APBN

Di sisi lain, data dari Amerika justru cukup menggembirakan. Ekonomi AS mencatat penambahan 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, jauh melampaui perkiraan pasar yang cuma 60.000. Tingkat penganggurannya pun turun tipis ke 4,3 persen. Data kuat seperti ini biasanya mendorong dolar, yang artinya jadi tekanan tambahan buat rupiah.

Sementara dari dalam negeri, kabarnya juga kurang baik. Menteri Keuangan melaporkan defisit APBN hingga Maret 2026 sudah membengkak ke angka Rp240,1 triliun. Angka ini setara dengan 0,93 persen dari PDB, jauh lebih besar ketimbang periode sama tahun lalu yang cuma Rp99,8 triliun. Padahal, batas atas defisit yang ditargetkan pemerintah untuk tahun 2026 adalah 2,68 persen.

Penyebabnya cukup jelas. Belanja negara melesat tinggi, tumbuh 31,4 persen year-on-year jadi Rp815 triliun. Di sisi penerimaan, pertumbuhannya tak secepat itu. Penerimaan negara hanya Rp574,9 triliun, dengan kontribusi terbesar dari pajak sebesar Rp462,7 triliun. Akibatnya, keseimbangan primer yang mengukur pendapatan dikurangi belanja di luar bunga utang masih defisit Rp95,8 triliun. Defisit primer berarti untuk menutupi pengeluaran rutin saja, pemerintah masih perlu berutang.

Dengan segudang sentimen campur aduk ini, proyeksi untuk rupiah hari ini masih suram. Mata uang kita diperkirakan akan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah lagi di kisaran Rp17.030 hingga Rp17.080 per dolar AS.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar