Sementara itu, Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management mengambil posisi lebih netral untuk jangka pendek. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa volatilitas tinggi kemungkinan besar akan tetap terjadi sepanjang pekan ini.
Pandangan yang beragam ini terlihat nyata dalam Kitco News Gold Survey. Dari 15 analis Wall Street yang berpartisipasi, hanya 27% yang yakin harga akan naik. Sebanyak 20% memperkirakan penurunan, dan mayoritas tepatnya 53% memilih untuk bersikap netral, menunggu lebih jelas.
Menariknya, investor ritel justru tampak lebih optimis. Survei yang sama menunjukkan 59% di antara mereka memperkirakan penguatan harga. Hanya 21% yang memprediksi turun, dan 20% sisanya melihat pergerakan konsolidasi alias di tempat.
Lalu, apa yang akan jadi penentu arah pekan ini? Fokus pasar kini bergeser ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Laporan ketenagakerjaan akan jadi pembuka, memberikan petunjuk awal tentang arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Setelah itu, mata pelaku pasar akan tertuju pada sederet rilis penting: data inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga risalah rapat Federal Reserve. Mereka akan menyaring setiap angka mulai dari ISM Services PMI, Durable Goods Orders, final GDP kuartal IV, Core PCE, klaim pengangguran mingguan, hingga data CPI dan survei kepercayaan konsumen University of Michigan untuk mencari sinyal, sekecil apapun, tentang masa depan suku bunga.
Intinya, pekan ini pasar emas akan bergerak di antara dua kekuatan: ketegangan geopolitik yang belum reda dan data-data ekonomi AS yang dingin. Pertarungan antara sentimen dan fakta ini yang akan menentukan, apakah emas akan melesat, terjun bebas, atau hanya bergoyang-goyang di tempat.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 55,78 Poin, Sentimen Negatif Dominasi Pasar Saham
OJK Klaim Transparansi Pasar Modal Indonesia Lampaui Standar Global
IHSG Anjlok 0,77% di Awal Pekan, Mayoritas Saham Terpuruk
IHSG Anjlok 0,77% ke Level 6.972, Mayoritas Saham Tertekan