Selain CPI, ada juga data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis. Meski begitu, data PCE ini masih mencerminkan kondisi Februar sebelum dampak perang sepenuhnya merambat ke ekonomi.
Sementara trader mencermati angka-angka inflasi, perhatian juga mulai beralih ke kinerja perusahaan. Musim laporan laba kuartal pertama sebentar lagi dimulai, dan Wall Street berharap pertumbuhan laba yang kuat bisa jadi penopang pasar tahun ini. Beberapa nama seperti Delta Air Lines dan Constellation Brands akan membuka tirai lebih dulu dengan melaporkan hasilnya minggu depan.
Laporan-laporan awal ini ibarat gambaran sekilas sebelum gelombang besar dimulai pertengahan April. Secara keseluruhan, analis memproyeksikan perusahaan-perusahaan di S&P 500 akan mencatat kenaikan laba rata-rata 14,4% dibanding tahun lalu.
Seorang analis ekuitas Deutsche Bank menyebut, “Musim laporan laba kuartal pertama yang dimulai pertengahan April diperkirakan menunjukkan bahwa pertumbuhan laba masih menguat dan semakin luas.”
Jadi, pekan depan adalah tentang dua narasi: seberapa parah inflasi tersengat harga minyak, dan apakah korporasi Amerika masih cukup tangguh menghadapi badai geopolitik. Jawabannya akan menentukan arah pasar saham dalam beberapa minggu ke depan.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar