tuturnya.
Faktor lain yang perlu dicermati adalah penguatan dolar AS. Secara teori, dolar yang kuat biasanya menekan harga emas. Namun belakangan ini, logikanya agak berbeda. Di tengah ketidakpastian yang begitu tinggi, keduanya dolar dan emas bisa saja menguat beriringan. Soalnya, sama-sama dianggap sebagai aset lindung nilai yang aman.
Ibrahim menambahkan, konflik di Timur Tengah yang melibatkan banyak pihak tampaknya belum akan reda. Belum lagi perang Rusia-Ukraina yang kembali memanas. Semua ini menambah tekanan pada stabilitas ekonomi global, dan pada akhirnya mendongkrak permintaan emas.
Permintaan itu datang dari mana-mana. Mulai dari investor kecil-kecilan sampai institusi besar. Bahkan, tren pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara diprediksi akan terus berlanjut. Strategi diversifikasi cadangan devisa mereka rupanya masih mengandalkan logam kuning ini.
“Selama ketidakpastian global masih tinggi, tren kenaikan emas akan tetap terjaga. Target Rp3 juta per gram sangat terbuka untuk dicapai,”
pungkas Ibrahim.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar