Lalu, apa pemicu semua ini? Sentimen pasar secara umum memang sedang muram. Pemicu utamanya adalah ketegangan geopolitik yang kembali memanas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan serangan militer lanjutan ke Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan langsung mengguncang kepercayaan investor.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global membuat harga minyak melonjak dan pasar saham Asia, termasuk Indonesia, bertekuk lutut.
Menurut sejumlah analis, situasi ini membuat investor harus lebih berhati-hati. Analis Nomura, misalnya, memberi catatan khusus untuk saham-saham di India, dan dalam tingkat lebih ringan, Indonesia serta Filipina. Risiko terhadap pertumbuhan dan laba perusahaan dinilai meningkat di tengah gejolak ini.
Sebaliknya, pasar seperti Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai punya ketahanan yang relatif lebih baik.
Sementara itu, tim analis BRI Danareksa melihat situasi ini menciptakan sinyal yang campur aduk. Ketidakpastian arah konflik dan pergerakan pasar ke depan, menurut mereka, semakin meningkat. Investor sebaiknya waspada.
Perlu diingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stabil di Rp 2,857 Juta per Gram, PPN Dihapus
OJK, BEI, dan KSEI Rampungkan Empat Agenda Kunci Perkuat Transparansi Pasar Modal
IHSG Turun 0,99%, Nilai Transaksi Anjlok 36,69% Pekan Lalu
Pemprov DKI Potong BPHTB 50% untuk Pembeli Rumah Pertama di Bawah Rp500 Juta