Suasana di tiga rumah sakit di Jakarta Timur sempat mencekam Sabtu lalu. Puluhan siswa tiba-tiba berduyun-duyun dilarikan dengan keluhan yang mirip: demam, mual, dan muntah-muntah. Totalnya, 72 anak dari empat sekolah berbeda diduga keracunan setelah menyantap spageti dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Pondok Kelapa.
Merespons kejadian ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung mendatangi RSKD Duren Sawit. Ia ingin memastikan sendiri penanganan para korban berjalan tanpa kendala.
"Seperti kita ketahui bersama, ada dampak dari makanan yang disiapkan oleh SPPG di lokasi Pondok Kelapa Dua,"
ujar Pramono di lokasi.
Korban berasal dari SMAN 91, SDN Pondok Kelapa 01, 09, dan 07. Mereka kini tersebar dirawat di RSKD Duren Sawit, RSKD Pondok Kopi, dan Rumah Sakit Harum. Gejalanya seragam; mulai dari panas tinggi, mual, sampai diare. Kabar baiknya, kondisi mereka perlahan membaik dan dikabarkan stabil.
"Alhamdulillah kondisinya sekarang semuanya stabil, recovery. Mudah-mudahan satu dua hari sudah selesai semua,"
kata Gubernur dengan nada lega.
Memang, kecurigaan awal mengarah ke sepiring spageti yang dibagikan itu. Tapi Pramono sangat berhati-hati. Ia enggan berandai-andai sebelum ada kepastian dari lab.
"Memang diduga dari makanan spagetinya, diduga. Tapi saya tidak mau berandai-andai, nanti biar laboratorium yang menyampaikan secara terbuka,"
tegasnya.
Di sisi lain, soal biaya perawatan, Pramono memberikan jaminan. Keluarga korban tak perlu pusing memikirkan tagihan rumah sakit.
"Kalau mereka terdaftar di BPJS Kesehatan, sepenuhnya akan di-cover. Yang tidak ter-cover, BGN menyatakan akan bertanggung jawab,"
penegasannya singkat namun jelas.
Jadi, meski insiden ini cukup menghebohkan, penanganan terlihat bergerak cepat. Fokus sekarang adalah pemulihan para siswa dan menunggu hasil penyelidikan resmi untuk mengetahui penyebab pastinya.
Artikel Terkait
Ratu Sofya Bantah Kirim Somasi ke Ibu Kandung, Kuasa Hukum Sebut Surat Itu Pernyataan Sikap
Polisi: Pria di Bogor Tewaskan Wanita Usai Memeras Korban dengan Dalih Permintaan Maaf
AS dan Iran Capai Titik Temu soal Selat Hormuz dan Pemusnahan Uranium Tingkat Tinggi
Wamendagri Dorong Organisasi Kepemudaan Jadi Pemimpin Besar, Bukan Sekadar Pekerja Sosial