“Di tahun ini, perseroan akan terus berupaya melakukan restrukturisasi komprehensif untuk menurunkan beban keuangan atas penugasan yang dikerjakan dan divestasi atas aset yang belum dapat memberikan laba,” tambahnya.
Upaya penyehatan itu rupanya membuahkan hasil di beberapa sisi. Nilai piutang, contohnya, berhasil ditekan 29,2 persen menjadi Rp1,89 triliun di akhir 2025. EBITDA operasi juga masih positif di Rp426,52 miliar, sebuah indikasi bahwa kinerja operasional di lapangan sebenarnya masih berdenyut di tengah proses restrukturisasi.
Di sisi lain, beban keuangan tetap menjadi tantangan serius. WIKA masih harus membayar beban keuangan sebesar Rp2,97 triliun sepanjang tahun lalu. Syukurlah, angka ini turun 9,4 persen dari tahun 2024. Masalah lain datang dari investasi di perusahaan lain. Kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama ikut menyumbang kerugian, masing-masing Rp52,6 miliar dan Rp1,44 triliun.
Dampak kerugian jumbo itu terlihat jelas di neraca. Posisi kas dan setara kas merosot 18 persen, tinggal Rp2,75 triliun. Total aset perusahaan juga menyusut 21 persen menjadi Rp50 triliun. Yang paling mengkhawatirkan, defisit akumulasi kerugian membengkak jadi Rp19,29 triliun. Meski begitu, secara teknis ekuitas WIKA masih positif di angka Rp1,68 triliun di akhir periode.
Jalan panjang restrukturisasi jelas masih menanti. Laporan ini seperti gambaran nyata sebuah BUMN besar yang sedang berjuang bangkit, mencoba menyeimbangkan antara operasional yang harus tetap jalan dan beban keuangan yang harus segera ditata ulang.
Artikel Terkait
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168
WOM Finance Bagikan Dividen Rp46 Miliar, Cair Awal Mei 2026
ADRO Tingkatkan Anggaran Buyback Saham Jadi Rp 5 Triliun
OJK dan BEI Rampungkan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal