Anggota DPR Ahmad Safei mengaku mendapat kabar baik dari pemerintah. Menurutnya, rencana menaikkan tarif pesawat belum jadi pertimbangan serius. Hal ini disampaikannya menanggapi desakan dari industri penerbangan yang tertekan lonjakan harga bahan bakar avtur.
"Kita berharap sebenarnya itu tidak terjadi," ujar Safei, Anggota Komisi V DPR RI, Jumat lalu.
Dia mengakui, tekanan untuk menaikkan tarif itu nyata. Sumber masalahnya ada di luar kendali Indonesia: eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga avtur global meroket. Namun begitu, dia optimistis pemerintah punya sejumlah cara untuk meredam dampaknya. Intervensi melalui skema subsidi disebut sebagai salah satu opsi yang mungkin diambil.
"Ini kan dampak dari eskalasi di Timur Tengah. Kita berharap pemerintah bisa mengatasinya, termasuk melalui skema subsidi agar tidak berdampak pada kenaikan tarif," katanya lagi.
Meski berharap tarif tak naik, Safei juga bersikap realistis. Dalam kondisi tertentu, penyesuaian tarif bisa saja tak terhindarkan. Jika itu yang terjadi, dia meminta publik untuk memahami. Jangan langsung menyalahkan pemerintah.
"Kalau pun itu harus terjadi, ya kita harus menerima. Karena ada kondisi negara yang memang tidak bisa kita kendalikan," imbuhnya.
Pernyataan Safei ini bukan tanpa alasan. Data di lapangan menunjukkan situasi yang cukup pelik. Harga avtur pada April 2026 disebut melonjak hingga rata-rata 70 persen! Lonjakan drastis ini didorong gejolak geopolitik, terutama setelah pecahnya perang antara AS dan Iran yang mengguncang pasar energi dunia.
Artikel Terkait
BMKG Catat 422 Gempa Susulan Usai Guncangan M5,4 di Bitung
Apindo Soroti Ancaman Kelangkaan Bahan Baku Impor Akibat Konflik Timur Tengah
DK PBB Segera Voting Resolusi Keamanan Selat Hormuz di Tengah Penolakan China-Rusia
Timnas Indonesia U-17 Tumbang dari India, Lanjutkan Tren Negatif Jelang Piala AFF