Dari sisi perbankan, situasinya tak lebih baik. Bank-bank besar yang biasanya jadi penopang justru ikut menekan. BMRI, BBRI, dan BBNI sama-sama melemah. Bobot mereka yang besar di indeks tentu saja memperkuat tekanan pelemahan ini.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Tampaknya ini aksi ambil untung jangka pendek yang wajar. Setelah kenaikan tajam sehari sebelumnya, banyak investor memilih untuk merealisasikan keuntungan. Apalagi, situasi global masih sangat mencekam.
Konflik AS-Israel dan Iran masih menggantung. Meski Iran dikabarkan akan mempertimbangkan proposal AS untuk meredakan ketegangan di Teluk, situasinya tetap rentan. Perang yang meluas ini sudah mengguncang pasar global, mendongkrak harga minyak, dan kembali membangkitkan hantu inflasi. Ekspektasi suku bunga global pun jadi kacau balau.
Dampaknya terasa luas. Di kawasan Asia, sentimen negatif juga mendominasi. Indeks Nikkei Jepang dan Topix melemah. Korsel lebih parah, Kospi-nya ambles 3,08%. Shanghai dan Hang Seng juga ikut tergelincir.
Yang cukup mengkhawatirkan, indeks MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang) diperkirakan akan mencatat penurunan bulanan sebesar 8,7%. Jika itu terjadi, ini akan jadi koreksi terburuk sejak Oktober 2022 sebuah sinyal yang jelas bahwa pasar masih dalam mode waspada tinggi.
Jadi, untuk sementara, volatilitas masih akan jadi menu utama. Investor tampaknya memilih untuk menahan napas, menunggu kejelasan dari medan geopolitik yang masih berasap.
Artikel Terkait
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo