Tapi di sinilah perbedaannya benar-benar terlihat. Ketika sampai di laba bersih, nasib mereka berjalan ke arah berlawanan.
Laba bersih INKP melesat 12% menjadi USD 453 juta. Sebaliknya, laba bersih TKIM justru terpangkas 7,2% menjadi USD 275 juta.
Menurut laporan itu, penyebab selisih yang signifikan ini ada pada beban operasional. Beban penjualan TKIM membengkak cukup tinggi, sekitar 20%. Sementara INKP justru berhasil menekan pos yang sama hingga turun 4%. Beban yang satu ini rupanya cukup berpengaruh.
Dari kacamata neraca, aset kedua emiten memang sama-sama membesar. Tapi ada yang perlu dicermati: posisi kas mereka justru menipis drastis. Kas dan setara kas INKP anjlok 31% menjadi USD 1,22 miliar. Kondisi TKIM lebih parah, kasnya menyusut 39% hanya dalam setahun, tersisa USD 114 juta.
Jadi, meski berasal dari grup yang sama dan bergerak di industri serupa, tantangan operasional dan strategi efisiensi bisa membawa hasil yang jauh berbeda. Itulah yang terjadi pada INKP dan TKIM di tahun 2025.
Artikel Terkait
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG