Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali merangkak naik. Pada Kamis lalu, tepatnya 19 Maret 2026, kontrak acuan untuk pengiriman Juni di bursa Malaysia ditutup menguat 1,86 persen, berada di level 4.612 ringgit per ton. Ini sekaligus mencatatkan kenaikan untuk pekan ketiga berturut-turut.
Nah, penguatan ini tak lepas dari sentimen positif dari bursa komoditas Dalian, di mana harga minyak nabati lainnya juga bergerak naik. Meski begitu, ada faktor yang menghalangi laju kenaikan jadi lebih deras: aksi ambil untung. Apalagi, pekan perdagangan kemarin terpotong libur Idulfitri.
Seorang trader di Kuala Lumpur yang dihubungi Reuters mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, meski mengikuti kenaikan di Dalian, pasar sudah mulai waspada.
"Sejumlah pelaku pasar juga memilih menepi selama akhir pekan panjang, sehingga membatasi potensi kenaikan lebih lanjut," ujarnya.
Perdagangan memang libur pada Jumat (20/3) dan baru akan kembali berdenyut pada 24 Maret mendatang. Dalam catatan mingguan, CPO masih berhasil menguat hampir 1 persen.
Di Dalian sendiri, pergerakannya beragam. Kontrak minyak kedelai naik tipis 0,12 persen, sementara minyak sawitnya justru turun 0,43 persen. Sementara itu, di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai naik 0,4 persen. Seperti biasa, minyak sawit memang kerap mengekor pergerakan minyak nabati pesaingnya karena mereka berebut pangsa pasar yang sama.
Namun begitu, ada faktor eksternal yang kali ini cukup signifikan memberi tekanan: harga minyak mentah dunia yang melonjak. Brent sempat menyentuh level di atas 115 dolar AS per barel, level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Pemicunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan balasan Iran ke fasilitas energi setelah Israel menyerang ladang gas South Pars.
Lonjakan harga minyak bumi ini, secara tidak langsung, membuat CPO terlihat lebih murah dan menarik sebagai bahan baku biodiesel. Itu berita baik bagi harga sawit.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) memperkirakan harga CPO akan bertahan di atas 4.450 ringgit per ton untuk jangka pendek. Dukungannya datang dari harga energi yang tinggi dan situasi Timur Tengah yang masih mencekam.
Di sisi lain, ada juga ancaman dari dalam negeri. Produsen pupuk di Malaysia mulai menangguhkan pesanan baru. Gangguan rantai pasok dan kelangkaan bahan baku imbas konflik global berpotensi mendongkrak biaya produksi bagi para petani dan produsen kelapa sawit. Situasi yang patut diamati ke depannya.
Artikel Terkait
IHSG Siang Ini Menguat 0,65 Persen ke 7.102,72, Ditopang Sektor Non-Keuangan
OJK: Arus Dana Asing Keluar Akibat Geopolitik Global, Bukan Fundamental Ekonomi Domestik
IHSG Dibuka Menguat 0,41 Persen ke 7.086, Seluruh Sektor Hijau di Awal Perdagangan
BNI Peringatkan Nasabah soal Modus Penipuan Digital yang Incar Data Sensitif Perbankan