CP Prima, atau PT Central Proteina Prima Tbk, menutup tahun 2025 dengan catatan yang cukup menggembirakan. Perusahaan agrikultur yang berkode CPRO di bursa itu berhasil membukukan laba bersih hingga Rp424 miliar. Angka itu menunjukkan lompatan yang signifikan, yakni naik 32% jika dibandingkan dengan realisasi setahun sebelumnya.
Laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu mengungkap, pendapatan dari pelanggan juga merangkak naik. Tercatat ada peningkatan 7,2% menjadi hampir Rp10 triliun, tepatnya Rp9,95 triliun. Yang menarik, pertumbuhan ini terjadi secara merata di semua lini bisnisnya.
Segmen pakan, yang selama ini jadi tulang punggung pendapatan, tumbuh 6,8% menjadi Rp8,24 triliun. Di sisi lain, segmen produk makanan menyumbang Rp1,35 triliun setelah naik 5,3%. Sementara itu, kinerja segmen benur justru paling cemerlang, melesat 25% ke level Rp339 miliar.
Memang, di balik kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan ikut membesar 7% menjadi Rp7,95 triliun. Beban usaha juga naik, meski tipis, sekitar 0,7% ke angka Rp1,2 triliun. Kenaikan ini terutama didorong oleh beban penjualan serta administrasi dan umum, meski beban operasi justru mengalami penurunan.
Namun begitu, pengelolaan beban yang relatif terkendali itu turut mendongkrak profitabilitas. Laba kotor perusahaan meroket 8% menjadi Rp1,99 triliun. Margin brutonya pun menguat sedikit, dari 19,91% menjadi 20,07%.
Laba usaha tak kalah bagus, melonjak 20% menjadi Rp790 miliar. Puncaknya, laba bersih yang mencapai Rp424 miliar itu menghasilkan margin bersih sebesar 4,26%.
Tapi, margin yang terbilang tipis ini bukan tanpa sebab. Beban keuangan perusahaan ternyata cukup membebani, mencapai Rp164 miliar. Hal ini tak lepas dari utang bank perseroan yang jumlahnya cukup besar, yakni Rp1,38 triliun.
Melihat neracanya, posisi kas dan setara kas CPRO tercatat Rp135 miliar. Sementara persediaan barangnya membengkak hingga Rp1,85 triliun. Mayoritas, sekitar 85% atau senilai Rp1,57 triliun, berasal dari persediaan pakan.
Perseroan juga punya tagihan yang belum tertagih cukup besar. Piutang usahanya membesar sekitar 15% dari tahun sebelumnya, menjadi Rp985 miliar di akhir 2025.
Di bagian ekuitas, angkanya tercatat Rp3,79 triliun dengan total aset Rp7,22 triliun. Sayangnya, saldo laba masih terperosok di zona negatif, minus Rp2,58 triliun. Dengan asumsi laba bersih tahunan bertahan di kisaran Rp400 miliar, butuh waktu kurang lebih enam tahun bagi saldo laba ini untuk kembali positif.
Artikel Terkait
Indosat Tunjuk Eks Direktur Telkom Honesti Basyir di Jajaran Direksi Baru
Merdeka Copper Gold Finalisasi Studi Kelayakan Proyek Tembaga Tujuh Bukit, Target Produksi 110 Ribu Ton Per Tahun
TBS Energi Utama Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar dengan Bunga 9 Persen
Wall Street Menguat Didorong Harapan Damai AS-Iran dan Optimisme Sektor AI