Sepanjang tahun 2025, dua raksasa kertas dari Sinarmas Group, Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM), menunjukkan performa yang cukup berbeda. Padahal, keduanya masih satu payung. INKP, yang lebih fokus di hulu (upstream), dan TKIM yang bermain di hilir (downstream), sama-sama menghadapi tantangan penjualan yang sedikit melemah.
Laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu mengungkapkan, penjualan bersih INKP turun tipis 0,8% menjadi USD 3,17 miliar. Sementara itu, penjualan TKIM juga menyusut, meski sangat kecil, sekitar 0,04% menjadi USD 984,7 juta.
Namun begitu, cerita di balik angka penjualan itu ternyata lebih menarik. Faktanya, volume penjualan kedua perusahaan justru naik di semua segmen bisnisnya. INKP mencatat kenaikan di pulp, kertas budaya, hingga kertas industri dan tisu. TKIM pun mengalami hal serupa untuk produk kertas budaya dan industrinya.
Di sisi lain, komposisi pasar mereka bergeser. Pangsa ekspor INKP tetap stabil, 55% luar negeri dan 45% dalam negeri. Berbeda dengan TKIM, yang berhasil meningkatkan ketergantungan pada pasar luar negeri dari 54% menjadi 57%.
Lalu, bagaimana laba kotornya? Meski nilai penjualan turun, efisiensi di beban pokok pendapatan berbuah manis. Laba kotor INKP naik 0,3% menjadi USD 1,02 miliar. Pencapaian TKIM lebih baik lagi, laba kotornya melompat 2% ke angka USD 150,9 juta.
Artikel Terkait
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG