Ramadan tahun ini membawa suasana berbeda di pasar saham. Sementara saham-saham konglomerasi besar justru tertekan, ada sekelompok emiten yang justru bergerak melawan arus. Kelompok itu adalah saham-saham energi di bawah bendera konsorsium Garibaldi ‘Boy’ Thohir.
Pemicunya? Konflik di Timur Tengah yang mendorong harga komoditas seperti batu bara dan aluminium meroket. Itu jadi angin segar bagi saham-saham Grup Adaro.
Ambil contoh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Hingga Selasa (17/3/2026), sahamnya bertengger di level Rp10.500. Yang menarik, dalam sebulan terakhir, AADI justru melonjak 20,69 persen. Pencapaian ini kontras banget dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang malah anjlok 14,11 persen ke level 7.106,84. Jelas, saham ini punya kekuatan relatif yang cukup tangguh di tengah pelemahan pasar secara umum.
Tak cuma AADI. Kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang naik 10,36 persen ke posisi Rp2.450. Sementara itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatat kenaikan lebih moderat, yakni 5,36 persen. Meski tak se-spektakuler saudaranya, pergerakannya tetap mengarah ke atas.
Jadi, saat dana asing ramai-ramai keluar dan sentimen domestik lesu, saham energi Boy Thohir ini justru jadi penopang portofolio. Bagi beberapa investor, keuntungan ini rasanya seperti dapat "THR tambahan" jelang Lebaran.
Lantas, bagaimana prospek mereka ke depan?
Mari kita lihat AADI dulu.
BRI Danareksa Sekuritas, dalam risetnya tanggal 17 Maret, memberi rekomendasi beli untuk AADI dengan target harga Rp12.400. Analis melihat kinerja operasional emiten ini di tahun 2025 cukup solid. Produksinya mencapai 68,7 juta ton, naik 4 persen dari tahun sebelumnya. Penjualan juga ikut naik 6 persen jadi 71,9 juta ton.
Yang patut diacungi jempol, perusahaan berhasil menekan cash cost hingga 11 persen. Efisiensi ini membantu menjaga margin. Meski begitu, EBITDA mereka tetap turun 9 persen jadi USD1,14 miliar, terutama karena harga jual batu bara rata-rata yang lebih lemah.
Untuk tahun 2026, AADI menargetkan produksi sekitar 70 juta ton, atau naik tipis 1,9 persen. Target ini masih menunggu persetujuan RKAB, sih. Tapi BRI Danareksa memperkirakan laba perusahaan pada 2026-2027 bisa melonjak 44 hingga 84 persen, seiring dengan asumsi harga batu bara yang lebih tinggi.
Bagaimana dengan ADRO dan ADMR?
Laporan terpisah dari Sucor Sekuritas (16 Maret 2026) menilai kinerja ADRO tetap solid, bahkan melampaui ekspektasi. Laba bersih kuartal IV-2025 mereka capai USD146 juta, naik 15,6 persen dibanding kuartal sebelumnya. Tapi secara tahunan, angkanya turun 26 persen.
Secara keseluruhan, laba bersih 2025 ADRO tercatat USD448 juta. Memang turun drastis 68 persen dari tahun sebelumnya, tapi tetap di atas estimasi kebanyakan analis.
Pendapatan di kuartal akhir tahun itu didongkrak harga jual rata-rata dan volume penjualan yang lebih baik. Meski begitu, margin kotor mereka terpangkas jadi 34 persen dari 42 persen di tahun sebelumnya, imbas pelemahan harga batu bara termal.
Dari sisi operasi, penjualan batu bara kuartal IV-2025 mencapai 1,9 juta ton, naik 21 persen secara kuartalan. Untuk setahun penuh, volumenya 6,3 juta ton, melampaui estimasi analis yang cuma 5,8 juta ton.
Nah, yang jadi perhatian utama justru proyek smelter aluminium milik anak usahanya, ADMR. Fasilitas ini diperkirakan mulai beroperasi tahun ini dengan kapasitas produksi sekitar 280 ribu ton aluminium.
Sentimennya juga lagi bagus. Harga aluminium baru saja melesat ke level tertinggi dalam tiga tahun, menyentuh sekitar USD3.500 per ton. Lonjakan ini terjadi setelah dua smelter besar di Qatar dan Bahrain menghentikan pengiriman akibat ketegangan AS-Iran.
Dengan asumsi harga aluminium sekitar USD3.000 per ton di tahun 2026, Sucor Sekuritas memprediksi laba ADRO bisa mencapai USD514 juta, naik sekitar 15 persen.
Berdasarkan semua prospek itu, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk ADRO dengan target harga Rp3.800. Analis menilai perusahaan punya posisi strategis untuk memonetisasi neraca kuatnya lewat transisi energi, ditambah potensi lonjakan laba dari proyek smelter dan energi terbarukan mulai tahun ini.
Artikel Terkait
Bitcoin Tembus Rp1,39 Miliar, Tertinggi dalam Tiga Bulan Didorong Arus Dana Institusional
BRI Gandeng Grab, Beri Diskon Belanja dan Transportasi bagi Pemegang Kartu Kredit
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan