Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:30 WIB
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG

Ramadan tahun ini membawa suasana berbeda di pasar saham. Sementara saham-saham konglomerasi besar justru tertekan, ada sekelompok emiten yang justru bergerak melawan arus. Kelompok itu adalah saham-saham energi di bawah bendera konsorsium Garibaldi ‘Boy’ Thohir.

Pemicunya? Konflik di Timur Tengah yang mendorong harga komoditas seperti batu bara dan aluminium meroket. Itu jadi angin segar bagi saham-saham Grup Adaro.

Ambil contoh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Hingga Selasa (17/3/2026), sahamnya bertengger di level Rp10.500. Yang menarik, dalam sebulan terakhir, AADI justru melonjak 20,69 persen. Pencapaian ini kontras banget dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang malah anjlok 14,11 persen ke level 7.106,84. Jelas, saham ini punya kekuatan relatif yang cukup tangguh di tengah pelemahan pasar secara umum.

Tak cuma AADI. Kinerja positif juga ditunjukkan oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang naik 10,36 persen ke posisi Rp2.450. Sementara itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatat kenaikan lebih moderat, yakni 5,36 persen. Meski tak se-spektakuler saudaranya, pergerakannya tetap mengarah ke atas.

Jadi, saat dana asing ramai-ramai keluar dan sentimen domestik lesu, saham energi Boy Thohir ini justru jadi penopang portofolio. Bagi beberapa investor, keuntungan ini rasanya seperti dapat "THR tambahan" jelang Lebaran.

Lantas, bagaimana prospek mereka ke depan?

Mari kita lihat AADI dulu.

BRI Danareksa Sekuritas, dalam risetnya tanggal 17 Maret, memberi rekomendasi beli untuk AADI dengan target harga Rp12.400. Analis melihat kinerja operasional emiten ini di tahun 2025 cukup solid. Produksinya mencapai 68,7 juta ton, naik 4 persen dari tahun sebelumnya. Penjualan juga ikut naik 6 persen jadi 71,9 juta ton.

Yang patut diacungi jempol, perusahaan berhasil menekan cash cost hingga 11 persen. Efisiensi ini membantu menjaga margin. Meski begitu, EBITDA mereka tetap turun 9 persen jadi USD1,14 miliar, terutama karena harga jual batu bara rata-rata yang lebih lemah.

Untuk tahun 2026, AADI menargetkan produksi sekitar 70 juta ton, atau naik tipis 1,9 persen. Target ini masih menunggu persetujuan RKAB, sih. Tapi BRI Danareksa memperkirakan laba perusahaan pada 2026-2027 bisa melonjak 44 hingga 84 persen, seiring dengan asumsi harga batu bara yang lebih tinggi.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar