Sir Alex Ferguson dan Tradisi Unik Natal di Kantin Manchester United

- Kamis, 25 Desember 2025 | 08:30 WIB
Sir Alex Ferguson dan Tradisi Unik Natal di Kantin Manchester United

Manchester Bagi para pemain yang pernah merasakan era Sir Alex Ferguson, momen Natal punya cerita tersendiri. Sebuah tradisi unik yang sulit dilupakan, seperti yang diungkapkan mantan penyerang Manchester United, Dimitar Berbatov.

Ferguson, tentu saja, adalah legenda. Pria berusia 83 tahun itu membawa United meraih 13 gelar Liga Inggris dan dua trofi Liga Champions. Namanya identik dengan disiplin keras dan tuntutan tinggi. Tapi di balik itu, ada sisi lain yang justru lebih melekat di benak para anak asuhnya.

Berbatov membuka memorinya. Menurutnya, sebagai pesepak bola di Inggris, Natal seringkali berarti padatnya jadwal pertandingan. “Lebih banyak sepak bola dibanding makan malam bersama keluarga,” ujarnya, seperti dikutip Sport Bible.

Tapi di Manchester United, ada rutinitas istimewa.

“Periode ini selalu terasa spesial,” kenang Berbatov. Setelah sesi latihan, seluruh skuad akan menuju kantin klub untuk makan malam Natal. Dan di sanalah kejutan itu terjadi. Bukan katering atau pelayan biasa yang menyambut mereka.

Sir Alex Ferguson sendiri, bersama para staf pelatih, yang berdiri siap melayani para pemainnya.

“Itu tradisi yang menyenangkan,” katanya. Suasana kantin berubah jadi riuh dan hangat. “Kami semua merasa seperti satu keluarga besar. Manajer melayani makanan liburan, kami saling bercanda dan tertawa. Semuanya terasa menyenangkan.”

Namun begitu, jangan salah. Suasana hangat itu sama sekali tidak menghapus garis disiplin yang menjadi ciri khas Ferguson. Berbatov dengan jelas menegaskannya.

Meski merayakan di rumah masing-masing, para pemain tetap harus menjaga pola makan. “Kamu harus mengontrol apa yang kamu makan karena ada pertandingan. Kamu tidak ingin Sir Alex berada di depan wajahmu jika kalah… atau berat badanmu naik beberapa kilo,” tuturnya tegas.

Inilah keseimbangan khas sepak bola Inggris. Kebersamaan dan keakraban dijaga, tapi profesionalisme adalah harga mati. Sebuah pendekatan yang rupanya masih relevan hingga sekarang.

Pep Guardiola, sang arsitek Manchester City, baru-baru ini menggemakan hal serupa. Dia dengan terang-terangan akan memantau berat badan para pemainnya selama liburan.

“Pada tanggal 25, saya akan berada di sana mengontrol berapa kilo yang bertambah,” ucap Guardiola.

Dia memberi peringatan yang gambal. Pemain boleh menikmati hidangan Natal, tapi ada konsekuensinya.

“Saya harus memilih pemain untuk pertandingan tanggal 27 Desember. Bayangkan ada pemain yang kondisinya sempurna, lalu datang dengan berat bertambah tiga kilo. Dia akan tinggal di Manchester. Tidak akan berangkat ke Nottingham Forest,” tegasnya.

Jadi, begitulah. Dari Ferguson ke Guardiola, semangatnya tetap sama. Natal dirayakan, kebersamaan dibangun, tapi fokus pada tugas di lapangan tak boleh goyah sedetik pun. Sebuah pelajaran sederhana tentang keseimbangan, yang justru itulah yang paling sulit.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar